Tampilkan postingan dengan label ulang tahun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulang tahun. Tampilkan semua postingan

11 Mei 2011

Met ulang tahun ya Alma

Mei aja belum, tapi usaha mengingatkan hari kelahirannya udah digembar-gemborkan terus.

“Ma, entar lagi aku ulang tahun lho”, lain waktu dia bilang lagi

“Ma, nanti ulang tahunku dirayain nggak?”, ada lagi pengumumannya

“Ma, nanti ulang tahunku, makan-makan lagi di KFC ya ngundang teman-temanku” dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang nadanya sama, yaitu mengingatkan dan permintaan.

Nah, memasuki bulan Mei, baru saja tanggalnya bergerak ke angka 1, kalimat mengingatkan terulang lagi,

“ Ma, kurang sepuluh hari lagi lho”, semakin mendekati tanggalnya semakin sering saja mengingatkan, bisa sehari dua kali,

“ Ma, aku dikasih hadiah apa ini?”,

“Ma, nanti teman-temanku diundang ke rumah aja ya terus delivery”, dan masih banyak lagi tiap harinya.

Sampai akhirnya satu hari menjelang hari H.

“Ma, nanti mau kasih aku kejutan apa?”,

“Ma, tadi pas disekolah, aku dengar teman-temanku pada bisik-bisik, mau ngasih kejutan”.

Almaaaaa... Almaa....

Malam semakin larut, kebetulan acara TV dengan filem Hindinya membuat mataku betah memelototinya sambil jari-jemariku terus mengaitkan benang ke jarum knitting membuat satu karya yang sedang kugandrungi. Suami sudah pulas diatas kasur yang dipasang mengarah ke depan TV, sepertinya terlalu capai untuk bisa menikmati siaran TV setelah seharian kerja. Bungsu cantikku masih dengan buku pelajarannya dan sekali-kali berpindah ke laptop. Kemudian katanya,

“Kira-kira, malam ini ada yang ngucapin ulang tahun nggak ya?”

“Ya adalah, kan biasanya begitu dik” jawabku.

Tak berapa lama...

“Ma sudah ada yang ngucapin lho”

Aku segera melirik ke jam dinding ruang tamu, jam menunjukkan pukul 11.45 wita, jam dinding yang sengaja diatur lebih cepat 15 menit dari waktu sebenarnya.

“Lho, belum masuk tanggalnya kok udah ngucapin?, mama nanti ajalah kalau udah teng-teng-teng ya”

Saat jarum jam benar-benar menunjuk ke angka 12, barulah kuucap,

“Selamat ulanag tahun... Tambah pinter ya, tambah sholehah”

Disaat yang sama, mungkin karena aku dan bungsuku berisik, suamiku terbangun.

“Alma ulang tahun lho Pa”

“Eee... selamat ulang tahun ya cantik”, bungsuku mendekat dan meraih uluran tangan Papanya, sebuah ciuman sayang sayang mendarat ke pipinya.

Rabu, 11.05.2011,

Hai cantik, hari ini genap 13 tahun usiamu, ABG (Anak Baru Gede) sebutannya, saatnya mencari jati diri.

Selamat ulang tahun ya sayang, semoga kau bisa melewati usia rawan ini dengan baik, dengan berpegang teguh pada norma agama yang telah kau genggam sejak kecil. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan iman dan taqwa untukmu, selalu melindungimu, memberikan kesehatan, keselamatan, kelancaran semua urusanmu, dan memberikan kebahagiaan dunia dan akherat, Amin YRA.

Pesanku, Pandai-pandailah membawa diri, menjaga diri, menjaga kehormatan, dan tunjukkan bahwa kau bisa, semoga kesuksesan selalu menyertaimu sayang.

22 Desember 2010

buah hati... indahnya...


“Happy mother’s day my super beloved women on earth. Hhe. May you’ll always be blessed by God. And can bring your son always in a right way. Amiiin”

Inilah yang tetulis di layar Hpku, tertulis dari seorang bujang ganteng berusia 22 tahun, seorang mahasiswa semester 7 yang selalu kurindukan, kusayangi, kusebut namanya saat doa terpanjat kehadapan Ilahi.

Tadi pagi, seorang keponakan yang biasa mengajak obrolan di facebook menanyakan padaku,

“Budhe.... mas Mirza, mbak Sofi, mbak Alma sudah kasih ucapan selamat hari ibu ke Budhe belum?”

Lalu kujawab,

“Belum, karena mas Mirza saat ini sedang ujian, mbak Sofinya sedang ada kegiatan sekolah dan nggak boleh bawa HP, mbak Almanya sedang ikut pesantren kilat di sekolah. Jadi semua belum ngucapin selamat hari ibu ke budhe”

Aku sebenarnya juga ragu, apa perayaan hari ibu kali ini akan ada kejutan buatku dari orang-orang yang kusayangi?

Setelah waktu berlalu dan beranjak sore, ternyata sebuah SMS membuatku haru saat ku membacanya. Nafas tak setenang sebelumnya. Kuulang membacanya, sesekali menelan ludah. Lalu, kupindahkan HP ke tangan suami yang saat itu duduk disebelahku.

"Dari Mirza" ucapku sambil tersenyum, dibacanya dalam hati, lalu jarinya menekan kursornya, sepertinya mengulangi membaca dari atas lagi. HP dikembalikan padaku dan komentarnya,

“bagus” sambil bibirnya menyunggingkan satu senyuman.

Yang kulakukan kemudian, aku beranjak dari dudukku, segera menuju kamar mandi, mengambil air wudhu dan melanjutkan dengan sholat ashar. Saat takbirotul ihrom terucap, “Allaahu Akbar” air mataku mengalir, kutahan tapi terus saja mengalir sampai salam terucap.

Doa lalu kupanjatkan, untukmu putraku, untukmu putri-putriku. Semoga Allah memberikan keselamatan di dunia dan akherat, memberikan kesehatan, membimbingmu dalam kebaikan, menggenggammu dalam keimanan dan akhlak yang baik.

Ya Robbi, inilah amanat yang Kau titipkan padaku, kau percayakan padaku. Beri aku kekuatan dan kepandaian untuk menjaganya, membimbingnya, mendidiknya, mengingatkannya, menyayanginya dengan ridho-Mu, dengan kasih sayang-Mu. Amin YRA.

Lalu kujawab SMSnya,

“Amin, YRA. Inilah hadiah terindah di hari ibu, perhatianmu, doamu. Terimakasih banyak ya Mirza sayang, semoga Allah memberi keluasan rizki, kemudahan, petunjuk dan perlindungan terbaik untukmu. Amin YRA”

Dan untukmu ibu, ibuku sayang... SMSpun kukirimkan,

“Semoga Allah memberikan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan. Keluasan rizki,dan perlindungan sebaik-baiknya untuk ibu dan bapak. Selamat hari ibu ya Yangti.”

Ibu, terjawab dalam SMSmu,

“AMIN.. YA RABBAL ALAMIN semoga semua doa-doa yang selalu kita panjatkan selalu tercurah dari ALLAH SWT dan senantiasa dalam LINDUNGANNYA”

Ibu, terimakasih untuk semua pengorbananmu, untuk kasih sayang yang tercurah, untuk semua perhatianmu.

2 Desember 2010

I ♥ you ganteng (mirza)

02.12.2010, susunan angka yang cantik
Hari ini genap 22 tahun usia sulungku “Andi Mirza Zakaria”
“Met Ulang Tahun ya mas Ganteng”
Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan iman dan taqwa untukmu, selalu melindungimu, memberikan kesehatan, keselamatan, kelancaran semua urusanmu, dan memberikan kebahagiaan dunia dan akherat, Amin YRA.
Pesanku, Pandai-pandailah membawa diri, menjaga diri, menjaga kehormatan, dan tunjukkan bahwa kau bisa, semoga kesuksesan selalu menyertaimu sayang.



Sengaja kuselipkan “Mas Ganteng” untuk menuliskan pesan di wallmu, pernah kau berkomentar “apa sih pake ganteng-ganteng”, tapi kadang sikapmu biasa aja, kau tak berkomentar apa-apa, hahaha... aku suka saja menyebutnya. Sebenarnya ada maksud menyebutmu “ganteng”, tidak hanya rupa yang kumaksud, tapi berharap dan berdoa semoga perilakumu juga ganteng, studymu juga ganteng, terlebih ibadahmu, kuharap ibadahmu juga ganteng, yah... semuanya ganteng alias bagus.

Kali ini, sudah ke tujuh kalinya kau rayakan ulang tahun sendiri. Yah, sejak tahun 2004, yaitu sejak kau injakkan kaki di bumi Serpong, menuntut ilmu di SMU yang kau pilih, MAN Insan Cendekia-Serpong. Ucapan selamat ulang tahun melalui telpon sangat sulit tersampaikan, karena terbatasnya pesawat telepon yang disediakan di asrama. Yang saluran sibuklah, yang tak tersambunglah, atau.. saat tersambung kau tak ada ditempat, ah.. lama-lama sudah jadi hal biasa. Tak dibawain HP, karena memang kau tak boleh bawa HP. Tata tertib asrama untuk semua siswa. Intinya, komunikasi terganggu.

Satu kali saat menelepon bertepatan dengan ulang tahunmu, kau bilang teman-temanmu minta ditraktir. Yang kutangkap waktu itu, “wow ! seberapa banyak temanmu yang mau ditraktir, bukannya kamu tinggal di asrama?” Lalu kau jelaskan “ya nggak semualah Ma”. Hehehe... bayanganku seasrama mau ditraktir, terus traktirannya dimana? “paling juga makan di kantin asrama” lanjutmu.

Hari ini, saat meneleponmu, mengulang kembali ucapan selamat ulang tahun untukmu, kutanyakan

“Wah, makan-makan dong Mir, berapa harus mama kirim nih?”

Kau jawab,

“Kayaknya nggak makan-makan deh Ma nanti”

“Weih ! kok nggak seperti biasanya?, kirimin uang dong Ma, mau makan-makan nih sama temen-temen”

Ini yang terjawab tadi pagi. Hmm... yang bener? hehehe... apa iya nanti nggak ada makan-makan? Nggak berubah pikiran?



14 November 2010

Beruntungnya Aku


Beruntungnya aku,
Bersemayam dalah rahim seorang ibu yang taat agama
Aku yakin..
Saat raga ini mendapat asupan langsung dari rahim selama sembilan bulan
Pasti teriringi dengan banyak doa untukku

Beruntungnya aku,
Terayun dari seorang ayah yang tahu agama
Aku yakin..
Saat pertama kali kuberhadapan dengan dunia
Lantunan adzan dan iqomah pasti mengawali jejak langkahku

Kemudian...
Kau kenalkan aku sejak kecil dengan agama
Kau ciptakan kecintaanku sejak kecil pada agama
Kau tuntun aku dengan akhlak agama
Dan kau selimutkan doa yang tulus setiap saat dengan cinta dan kasih sayangmu
Hingga aku menjadi semakin yakin dengan agama yang kupeluk, yaitu islam
Dan mengamalkannya dalam kehidupanku

Hari ini, 14 November 2010
Genap 45 tahun usia pernikahan Bapak-Ibu
“Selamat ulang tahun”

Doaku teriring selalu untukmu:

Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani soghiiroo, ya Allah aku mohon dengan setulus hati untuk bapak-ibuku. Berikanlah kekuatan iman dan selalu dalam keadaan iman dan taqwa kepada-Mu sampai akhir hayat, berikanlah kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan dunia-akherat, kesabaran dan ketabahan. Mudahkan dan lancarkan semua urusannya. Jadikan sebagai panutan dalam kebaikan, dihormati dan disayangi keluarga dan handai taulan. Berikanlah rizqi yang agung, yang halal, yang penuh rahmat dan barokah-Mu. Bimbinglah selalu dalam petunjuk-Mu, jauhkan dari sifat iri, dengki, takabur, hindarkanlah dari segala bahaya dan kemungkaran. Dan semoga selalu dalam lindungan dan kasih sayang-Mu. Amin YRA”

Terima kasih Bapak-Ibu

25 Oktober 2010

aku selalu menyayangimu Bapak

by Eni Nur Rahyuni on Monday, October 25, 2010 at 2:14am

Masa kecil itu, senangnya memandangi bapak menghaluskan batang bambu untuk kerangka layang-layang, bapak berusaha menjadikan rata dari ujung ke ujungnya dengan menimbang-nimbang bagian tengahnya dengan jari. Kemudian mengikat dengan benang dan melekatkan kertas. Tak seperti ukuran layang-layang yang dijual diwarung. Bapak membuatnya lebih dari rentangan tanganku, sangat besar. Benang yang digunakan juga bukan benang biasa, tapi benang kasur. Sampai saat diterbangkan, rasanya badan ini ikut terbawa kemana arah layang-layang dibawa angin. Senang sekali.

Ada satu kesenangan bapak yang masih kuingat, yaitu menggambar. Ingat betul apa yang dikerjakan bapak dengan berlembar-lembar kertas karton yang menumpuk dimeja waktu itu, gambar tokoh seperti “Gordon, Gundala, Batman, Robin dan entah apa lagi namanya”. Sepertinya bapak membuat komik waktu itu, tapi entahlah gambar-gambar itu dikemanakan. Bapak juga menggambar di kanvas. Aku pernah jadi modelnya, duduk tak bergerak dengan menopangkan tangan di paha, memakai baju warna putih . Hmm... sekarang lukisan itu ada dimana ya? Apa masih tersimpan? Ingin melihatnya lagi kalau masih ada. Saat ini telah terkoleksi beberapa gambar cucunya yang terpajang didinding kamar dan beberapa lukisan pemandangan. Terakhir saat cuti lebaran kulihat kanvas kosong telah siap, ada foto bungsuku tertempel disebelah kanvas. Sepertinya giliran bungsuku yang akan dilukisnya. Tangan yang cekatan dan luwes, pantas saja kalau cucunya punya bakat menggambar juga, menurun rupanya.

Mengenang masa lalu, hanya bisa dikenang. Ingat-ingat waktu bapak ngajarin setir mobil, waktu itu masih memakai mobil sedan warna kuning keemasan, namanya torana. Pertama-tama belajar di alun-alun (alun-alun kidul), ini demi keamanan. Mau belok, mau ngegas, mau ngerem mendadak.. aman saja, wong namanya juga alun-alun, luas tak ada halangan. Lalu setelah agak lancar barulah dibawa ke jalan raya. Pertama terjun ke jalan raya yang banyak pengendara lalu lalang, yang tadinya agak lancar jadi grogi juga. Mana mau ngerem, mana mau ngegas. Setiap kali bapak berucap “Rem, Gas, Kiri-kiri, Kanan-kanan, pelan-pelan”. Sepanjang perjalanan kata-kata ini yang diulang-ulang. Hehehe... namanya juga lagi belajar, ya maklum saja. Yang tak terlupakan saat belajar di jalan raya. Tiba-tiba ada ayam yang nyelonong nyebrang, bingung antara mau ngerem, nginjak kopling, ngegas... Gubrak !yah.. sang ayam jadi korbanku. Maaf ayam.. maaf ayam..

"Masa kesenangan seorang laki-laki adalah saat membuat rumah dan mengawinkan anaknya", ini yang disampaikan ibu saat lebaran kemarin. Bapak.. di depan penghulu telah terucap ijab-qobul, sejak itu tanggung jawab atasku telah terlimpah, bukan lagi bapak sebagai pelindungku, tempat berkeluh kesahku, tempat aku mengadu jika ada yang mengganggu, tempat aku minta dibelikan baju baru, sepatu baru. Isak tangis mewarnai acara sungkem setelah akad nikah. Seperti mimpi waktu itu, aku benar-benar harus berpisah dengan bapak yang telah 21 tahun bersamaku.

Tahun-tahun berlalu, saat liburan tiba.. kebersamaanpun datang kembali. Setahun sekali.. itu yang pasti, namun ada terbatas waktu, saat libur sekolah usai atau masa cuti telah habis.. kembali perpisahan terulang. Tahun mendatang, saat liburan datang lagi.. kebersamaan terulang lagi. Semoga Allah memberikan kesehatan, kekuatan, keselamatan sehingga kita bisa dipertemukan lagi.

Bapak, hari ini usiamu genap 65 tahun. "Selamat ulang tahun" Hanya doa sebagai hadiahku untukmu,

Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani soghiiroo, ya Allah aku mohon dengan setulus hati untuk bapakku yang saat ini sedang berulang tahun yang ke 65. Berikanlah kekuatan iman dan selalu dalam keadaan iman dan taqwa kepada-Mu sampai akhir hayat, berikanlah kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan dunia-akherat, kesabaran dan ketabahan. Mudahkan dan lancarkan semua urusannya. Jadikan sebagai panutan dalam kebaikan, dihormati dan disayangi keluarga dan handai taulan. Berikanlah rizqi yang agung, yang halal, yang penuh rahmat dan barokah-Mu. Bimbinglah selalu dalam petunjuk-Mu, jauhkan dari sifat iri, dengki, takabur, hindarkanlah dari segala bahaya dan kemungkaran. Dan semoga selalu dalam lindungan dan kasih sayang-Mu. Amin YRA”

Bapak, masih banyak kenangan bersamamu,

Saat berkendara vespa ke jogja.. waktu itu bertiga dengan ibu.. lalu mampir ke prambanan, ada fotonya aku duduk bersila di candi memakai baju hijau muda, ibu pasti masih menyimpan fotonya.

Saat bapak menarikku cepat-cepat dari air ketika pintu air cokro tulung ditutup dan air tiba-tiba meninggi hingga aku hampir tenggelam. Saat kita berdua duduk dimobil.. pulang dari mengantar calon suamiku waktu itu.

Saat menenangkanku ketika kutunjukkan tanda-tanda kelahiran anak pertamaku.

Saat membawa sulungku keliling kota membantu proses penyapihan ASI, dan masih banyak lagi

Terimakasih bapak, aku menyeyangimu.

7 September 2010

I ♥ you Papa (M. Henny Arief)

Papa sayang...

Hari ini, Selasa 07 September 2010. Tepat 22 kalinya kuucap "Selamat Ulang Tahun" buatmu. Walau tak semuanya bisa kuucap secara langsung. Ada yang memakai surat, ada yang memakai telepon, ada yang memakai SMS, dan saat FB menjamur.. kuucap lewat FB. Tidak apa-apa yah, yang penting aku tetap mengingat dan mengucapkan selamat ulang tahun buatmu papa sayang. Ada teriring doa yang kutuliskan di FB, kuulangi yah dan kulengkapi sekarang..

"Ya Allah, hanya kepada-Mu aku memohon dengan setulus-tulusnya untuk suamiku Henny Arief yang saat ini sedang berulang tahun yang ke 50. Berikanlah kepadanya kekuatan iman dan selalu dalam keadaan iman dan taqwa kepada-Mu sampai akhir hayat. Berikanlah kesehatan, keselamatan dan kebahagian dunia akherat, kesabaran dan ketabahan. Mudahkan dan lancarkan semua urusannya, semua tugas dan pekerjaannya. Jadikan dia sebagai panutan dalam kebaikan, dihormati dan disayangi keluarga, kerabat dan handai taulan. Berikanlah rizqi yang agung, yang halal yang penuh rahmat dan barokah-Mu. Bimbinglah selalu dalam petunjuk-Mu. Jauhkan dari sifat iri, dengki, takabur dan sifat2 yang tidak baik. Jauhkanlah dari segala bahaya dan kemungkaran. Dan selalu dalam lindungan dan kasih sayang-Mu. Amin YRA"

Papa sayang...

Ada yang tak biasa di hari ulang tahunmu kali ini. Kali ini tak ada kue kejutan... meski aku tak membuat sendiri yah. Hahaha... cukup kupesankan saja dari sahabat, yang sudah karuan enaknya. Dari pada membuat sendiri malah kacau balau jadinya dan rasanya entah kemana. Tapi kuharap nanti malam kita makan-makan, traktir aku dong!!!

Ada kejutan dari putri cantikmu (Sofi) yang dititipkan padaku saat pulang dari jalan-jalan ke Mall sama adik, sepupu dan papa sendiri waktu itu. Sehari sebelum keberangkatan umrohnya, atau seminggu sebelum tanggal 7 September ini.

"Ma.. titip untuk papa ya"

"Apa ini?"

"Parfum untuk hadiah ulang tahun papa"

"Lhoh.. ! Baunya gimana?"

"Papa sudah tahu kok, cuma nggak nyadar aja kalau parfum ini untuk papa"

"OK, nanti disampaikan"

Papa sayang...

tadi pagi saat kita makan sahur, si bungsu "Alma" yang biasanya mengantuk... eee... kok ya matanya terang benderang dan mengucapkan "Selamat ulang tahun papa" terus ditambahi.. "Jadi... makan-makannya kapan?" Hahaha... lagu wajib ya pa...

Dan aku yakin... saat ini buah hati kita yang sedang menjalankan umroh, juga pasti ingat dan ingin mengucapkan selamat ulang tahun, seperti biasanya. Kita tunggu aja ya... memakai SMS, telpon, apa FB.

Sekali lagi "Selamat Ulang Tahun Papa sayang.. tambah taqwa dan tambah kenceng ibadahnya ya..!!"

6 Agustus 2010

I ♥ you cantik (sofi)

"6 Agustus. Ya.. sekarang sudah tangal 6 Agustus lagi" Sudah ke tiga kalinya 6 Agustus ini tak bersamamu putri cantikku (Sofi). Apa kabarmu sayang? Begitu tak sabarnya aku menjemput pagi. Paginya disini dan pagi di seberang lautan. Dimana kau, putri cantikku sedang berjuang menuntut ilmu. Menukar kemanjaanmu dengan kemandirian, melawan rasa kangenmu dengan tanggung jawab, membatasi kebebasanmu dengan kedisiplinan. Yup! Mudah-mudahan kau berhasil sayang.

Jariku telah menari-nari di bantal abjad hp, merangkai kalimat yang akan segera kukirimkan ke guru wali kelasmu agar pesanku cepat tersampaikan. Untukmu, putri cantikku. Jemariku juga menari-nari di laptop yang segera saja kukirimkan untukmu, kalau kau buka.. secepatnya akan kau terima ucapanku.

“Selamat Ulang Tahun cantik, hari ini genap sudah 17 tahun usiamu. Sudah saatnya kau mendapatkan KTP dan boleh memiliki SIM (C dan A). Tapi karena jarak yang membentang, ini tak dapat kau miliki secepatnya. Kau harus menunggu libur panjangmu. Lebarankah? atau tahun barukah? Ah, yang jelas ini tandanya kau sudah harus bertanggung jawab atas segala perilakumu. Semoga Allah selalu melindungimu, memberi keselamatan, kesehatan, kemudahan dan kelancaran semua urusanmu, memberikan kebahagiaan di dunia dan akherat. Amin. Pandai-pandailah membawa diri putriku, menjaga kehormatan dan tunjukkan bahwa kamu ada”

Alamat ke nomor yang kutuju sudah ada di layar hp. Satu kali lagi, tekan “ok”, akan segera terkirimlah pesanku. Tapi aku masih harus menunggu beberapa menit lagi, memastikan bahwa saat mengirim pesan ini adalah saat yang tepat bagi guru wali kelasmu yang akan menyampaikan pesanku untukmu, putri cantikku.

Jam dinding di ruang keluarga rasanya melambat, menunggu menit saja rasanya menggemaskan. Tok.., tok.., tok.., detiknya begitu terasakan. Kenapa tak seperti waktu diburu jadwal penerbangan yang seolah jarum jam merambat cepat, bahkan terasa berlari.

Aku masih duduk diruang tamu memperhatikan jarum jam didinding. Nah, sekarang jarum panjangnya sudah menunjuk diangka 6 dan pendeknya sudah menggeser dari angka 7. Yup! setengah delapan tepat, dentumnya telah terdengar. Berarti sekarang setengah tujuh waktu dimana kau berada. Inilah saatnya mengirimkan sms-ku. Saat ini guru wali kelasmu pasti telah siap berangkat ke sekolah dan aku yakin sebelum berangkat akan mengecek nada pesan yang kukirimkan. Begitu melihat pesan singkatku pasti akan segera menyampaikan padamu setelah apel pagi.

Tombol “ok” kutekan, mudah-mudahan saluran telekomunikasi pagi ini lancar, tak ada gangguan. Masih kupandangi layar hp, menunggu laporan pengirimannya. Memastikan laporan terkirim. Lalu muncullan sekelebat, sedetik mungkin “pesan terkirim”. Alhamdulillah, sebentar lagi pesan akan sampai ketelingamu dan aku yakin nanti malam kau akan meleneponku cantik. Akan kupastikan baterai hp terisi penuh sehingga saat kau telepon tak ada kendala "low bat".

Yah! akan kucharg sekarang dan nanti sore lagi, kucharg lagi.

I ♥ you cantik

buat putri cantikku yg sdg menuntut ilmu di magelang (sofi)

18 Juni 2010

♥ Aku sayang Ibu ♥

,big>Jum’at, adalah hari yang istimewa. Beberapa peristiwa yang terjadi dihari Jum’at. Seperti diriwayatkan:

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

Dan Jum’at ini juga ada peristiwa yang istimewa, bertepatan dengan hari kelahiran ibuku sayang, 18 Juni 2010. Genap 60 tahun usia Ibu. "Selamat ulang tahun ibu" . Kutengadahkan kedua tangan kehadapanMu ya Robbi:

“Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani soghiiroo, ya Allah hanya kepadamu aku memohon dengan setulus-tulusnya untuk ibuku. Berikanlah kekuatan iman, keselamatan dunia-akherat, kesehatan, ketabahan dan kesabaran.. Mudahkan segala urusannya, berikanlah rezeki yang agung, yang halal penuh rahmat dan barokah-Mu. Amin YRA”

Ibu, tergambar jelas dianganku...Seorang yang kuat beribadah... Hampir disetiap sepertiga malam terakhir aku sering mendengar gemericik air wudlu ibu untuk bersujud dalam qiyamul lail, tahajud. Kadang kupergoki ibu bersujud sangat lama seolah tak ada jarak antara Engkau ya Allah dengan ibu, kupergoki juga tangan ibu sedang menengadah, nafas ibu sangat kentara dan sesekali menghembuskannya dengan panjang. Apa yang sedang ibu panjatkan?

Seorang yang benar-benar mencintai keluarga, tak membedakan anak maupun menantu, menyayangi ke 12 cucu yang ada, mudah-mudahan nanti bertambah lagi cucu ibu, amin. Menyayangi eyang yang saat ini sudah sangat sepuh dan peduli pada saudara. Seorang yang sabar ketika dikecewakan tapi tegas saat harus mengambil sikap, baik hati dan tak ingin merepotkan siapa-siapa.

Seorang yang tekun bekerja dan kesenangannya adalah bekerja. Betapa betahnya ibu duduk didepan meja kerja dengan kaca mata plus 3-4. Ibu mendisain, merakit hingga larut malam, menghargai sampai menjualnya. Berusaha menepati waktu untuk setiap pesanan sehingga tak mengecewakan pembeli.

Seorang juru masak yang kurindukan. Aku kangen rawon ibu, rendang pete ibu, paklay ibu, oseng tahu ibu jika memasak untuk sahur orang-orang masjid dan masih banyak lagi ibu.

Inilah ibuku. Sosok yang kurindu setiap saat. Suara yang kutunggu disetiap teleponku.Aku tidak mengada-ada. Inilah ibuku. Yang melahirkanku, yang mengajarkanku berdoa sejak kecil. Aku masih ingat doanya.

"Ya Allah, kulo nyuwun pangapunten kagem sedoyo dosa kulo, dosa bapak-ibu kulo, adik-adik kulo lan simbah kulo. Kulo nyuwun dadi anak sholeh, pinter, ayu, sehat" artinya

"Ya Allah, hamba mohon ampun atas segala dosa hamba, dosa bapak -ibu hamba, adik-adik hamba, nenek-kakek hamba. Hamba mohon untuk menjadi anak yang soleh, pinter, cantik, sehat"

Ibu, akhirnya doa ini menjadi doa wajibku waktu itu, doa yang kulantunkan seusai menjalankan sholat wajib sebelum aku mampu memanjatkan doa lebih banyak, selain doa yang diajarkan dengan bahasa arab yang telah kuhafal sebelumnya, yaitu :

"Robbanaa aatinaa fiddunyaa khasanah, wafil aakhiroti khasanah, waqinaa adzaabannaar"
"Robbighfirlii waliwaalidayya warkhamhumaa kamaa robbayaani soghiiroo"

Tak bosan ibu memanggilkan guru ngaji ke rumah, untukku dan adik-adik. Agar aku dan adik-adik belajar membaca qur'an, menulis arab, belajar sejarah islam, akhlak dan masih banyak lagi.

Terimakasih ibu, dengan agama yang kuat sebagai pondasi hidupku. Ibu telah memberiku bekal dikehidupanku dan bekal untuk mendidik putra-putriku.

Maafkanlah aku ibu, jika masih banyak yang tak kupenuhi keinginanmu. Tapi aku akan berusaha lebih gigih.

Aku sayang ibu
,/big>

23 Mei 2009

Lima Belas Januari

"Mama ulang tahun ya..." kata suami mengejutkanku. Kuambil HP yang dibawanya lalu kulihat layarnya. "Ulang tahun 42". Aku tersenyum. Suami lalu menyalami sambil mencium pipiku. Tak berapa lama, anakku yang masih kelas 5 SD berjalan terburu-buru kearahku sambil membawa perlengkapan sekolahnya, lalu mengulurkan tangannya dan menciumku. "Met ulang tahun ya..." katanya sambil tersenyum.
"Traktir dong...". Katanya lagi. Aku tertawa, lalu kujawab sambil bercanda,
"Gimana sih, mama kok suruh traktir terus, kamu ulang tahun, mama juga yang traktir. Hayo, kamu sekarang yang traktir". Dia cengingisan.
"Ya udah, nanti kubelikan coklat". Katanya sambil memakai sepatu. Tahu betul kalau aku suka coklat.

Sekarang sudah jam tujuh kurang lima belas menit. Rumah kembali sepi karena suami sudah berangkat kerja dan anakku juga sudah berangkat sekolah. Tinggal aku sendiri ditemani seorang pembantu. Aku memang bukan pegawai kantoran, hanya seorang ibu rumah tangga. Seperti kebanyakan ibu ditempat tinggalku ini. Hanya beberapa yang kerja kantoran, bisa dihitung.

Belum selesai merapikan meja makan bekas sarapan tadi pagi, HPku bunyi, nada dering lagunya Naff "Kaulah Hidup dan Matiku". Ini dari anakku yang kuliah di Bandung. Segera kuangkat.
"Ma...! Met ulang tahun ya Ma..." Katanya membuka percakapan.
"Iya Mir, makasih ya". Jawabku.

Senang mendengar suaranya lagi. Padahal tadi pagi, baru saja kutelpon untuk membangunkan sholat subuh. Tapi ini lain, dia yang telpon khusus mengucapkan selamat ulang tahun. Jarang-jarang dia menelpon kalau tidak butuh sekali, seperti mau beli buku, beli baju atau minta tambahan pulsa. Anak sulungku, Mahasiswa Tehnik Mesin ITB semester empat. Menyempatkan telpon pagi-pagi hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Senang sekali rasanya, ternyata masih mengingat tanggal lahirku, masih perhatian juga.

Jam demi jam berlalu, hari semakin sore, kira-kira sekarang sudah jam enam. HPku berbunyi. Kali ini nada dering lagunya coklat "Bendera". Nada dering yang kutunggu setiap saat, dari anakku yang di Magelang. Aku hanya bisa menunggu telponnya karena aku tidak bisa menghubunginya. Peraturan sekolah tidak mengijinkan siswa membawa HP. Hanya disediakan wartel untuk komunikasi. Inipun harus ngantri dan waktunya dibatasi. Biasanya dua kali dalam seminggu dia menyempatkan menelpon.

Nada dering coklat masih berbunyi. Segera kuangkat telponnya, tapi aku kecewa karena salurannya jelek sekali. Suara anakku tidak terdengar jelas, terputus-putus.
"Telpon lagi ya Sof, nggak denger ini". Kutunggu beberapa detik, nada sambung terdengar lagi. Belum sempat kuangkat sudah mati, senewen juga rasanya. Telpon di wartel ini memang jelek sekali, harus beberapa kali baru tersambung bagus. Kutunggu lagi. Ada dua kali tidak sempat kuangkat sudah terputus.

Akhirnya nada dering dengan lagu benderanya coklat terdengar lagi. Kubiarkan sebentar, setelah yakin tidak putus baru kuangkat. Dari seberang kudengar.
"Denger Ma..."
"Ya, denger" Jawabku senang. Dari seberang kudengar lagi suaranya agak jutek memaki-maki telpon wartelnya.
"Sialan ini telpon, jelek sekali. Mama..., padahal tadi aku udah siap-siap mau kasih mama kejutan"
"Apa ?"
"Aku tadi udah siap-siap nyanyi Happy Birtday, sialan ini telpon. Gak jadi sureprise"
Bisa kubayangkan wajahnya kalau lagi jengkel. Memang saluran ini jelek sekali, setiap telpon tidak pernah bersih, yang suaranya kecillah, yang putus-putuslah, yang menggemalah.
"Acaranya apa ni Ma?"
"Nggak ada Sof, cuma besok rencananya di rumah mau ada pengajian"
"O, pengajian untuk ulang tahun Mama ya?"
"Nggak juga, udah lama nggak ngadain pengajian di rumah"
Sepuluh menit berlalu, akhirnya telpon ini harus diakhiri karena banyak temannya yang ngantri.
"Udah ya Ma, banyak yang ngantri ini, nggak enak sama yang lain"
"Ya, ya, hati-hati ya, baik-baik, assalamu'alaikum" Kataku menutup percakapan.
"Wa'alaikum salam, Mmmmuah". Jawabnya, kemudian telpon terputus.

Aku, diusiaku yang ke 42. Sudah tidak muda lagi. Kuamati anakku yang masih kelas 5 SD, masih asyik dengan carton Disneynya. Aku bersyukur pada penciptaku karena telah dikaruniai keluarga yang penuh kasih sayang, dikaruniai anak-anak yang baik-baik. Kurasakan pipiku basah, bulir-bulir hangat mengalir dari ujung mataku.
Aku kembali mengingat masa-masa kecil mereka. Masa-masa masih bersama yang penuh keceriaan, canda tawa dan tangisan mereka. Aku kembali bernostalgia mengingat masa-masa indah dulu. Memandikan mereka dengan air hangat, menyuapi mereka sambil keliling rumah, mengajari kata demi kata setiap saat, mengajari memakai sepatu sendiri, mengajari mengancingkan baju sendiri.
Kalau ingat waktu itu... kakinya yang mungil dan tangannya yang mungil berusaha keras sampai badannya keringatan. Tangisnya meledak saking jengkel karena nggak berhasil-berhasil. Kuajari terus sampai akhirnya mereka tertawa senang ketika berhasil dan memamerkan padaku. Ah..., masa-masa itu begitu indahnya. Tapi sayang waktu tak bisa diulang.
Aku hanya bisa mengingat kembali ketika mengajak mereka ke taman bermain ayunan, main prosotan, mengajak mereka ke laut mencari kerang dan batu karang, berlomba melempar batu sejauh-jauhnya ke tengah laut, juga menangkap anak kepiting.
Kembali kuingat lagi masa-masa mengantar mereka ke sekolah. Kemudian melatihnya untuk ikut bus jemputan yang lewat depan rumah. Jika mereka terlambat, aku menyuruhnya berjalan cepat untuk menuju halte selanjutnya yang jaraknya 100 m yang nanti akan dilewati bus itu lagi. Ah..., kalau ingat masa-masa itu, rasanya kasihan juga. Tapi aku harus mengajarkan pada anak-anakku pentingnya mengatur waktu, kalau lambat-lambat nanti akan ketinggalan. Akhirnya anakku bisa melewatinya dengan baik.
Aku kembali mengingat masa-masa mengantar mereka les musik, les sempoa, les bahasa inggris yang jaraknya ada 6 kilo dari rumah. Walau kadang harus kupaksa juga berangkatnya. Aku yakin ini semua untuk kebaikan mereka. Ah..., masa-masa itu begitu indahnya. Terlalu mahal untuk dilupakan.
Sekarang anakku sudah besar, kegiatannya sudah berbeda. Sudah tidak membutuhkan bantuan dengan sentuhanku. Bantuan yang dibutuhkannya sudah berbeda. Yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan, memberi semangat, mengingatkan. Apa mereka masih mengingat masa-masa kecil mereka yang indah itu ya...?

Aku, diusiaku yang ke 42. Ada beberapa helai rambutku yang ternyata sudah memutih. Putraku, kau tumbuh besar, badanmu tegap, langkahmu mantap, kau tumbuh menjadi anak yang pintar. Putra sulungku, kau sedang menuntut ilmu di Bandung. Kau berhasil masuk perguruan tinggi ternama yang diidolakan setiap pelajar "ITB". Kau sekarang sudah semester empat Tehnik Mesin. Banyak prestasi yang kau berikan padaku, teruslah berkarya. Ya Allah, puji syukurku pada-Mu telah memberiku putra yang baik. Terimakasih anakku, kau telah menjadi putraku yang baik. Sekarang kau berada jauh di seberang, tanganku tak bisa membelaimu sesering waktu kau kecil. Mataku juga tak bisa memandangmu setiap saat. Tapi percayalah, gambarmu tetap tajam dalam anganku, aku tidak akan pernah lupa dan akan terus mendoakanmu. Ya Robbi, jagalah putraku ini. Berikanlah kesuksesan padanya, berikanlah kebahagiaan padanya, karuniakan kebaikan-kebaikan padanya.

Aku, diusiaku yang ke 42. Kulitku ternyata tidak sehalus dulu lagi. Apakah masih terasa nyaman jika untuk membelai? Putriku. Kuimpikan setelah mendapatkan seorang putra. Begitu lama untuk mendapatkanmu. Hampir lima tahun aku menunggumu. Akhirnya kau hadir juga. Sekarang kau sudah besar, kau tumbuh menjadi putri yang pintar. Kau sedang menjalani pendidikan di Magelang, di SMU unggulan se Indonesia "Taruna Nusantara" kau masih kelas satu. Banyak-banyaklah berprestasi di sekolahmu. Seperti motto hidupmu "Hidup hanya sekali, lakukan yang terbaik". Ya Robbi, terimakasih Kau telah anugerahkan seorang putri yang baik kepadaku. Terimakasih putriku. Walau waktu yang kita punya tidak banyak saat ini, tapi kau selalu menyempatkan waktumu untuk menyapaku lewat telponmu. Kau benar-benar penuh perhatian. Ya Robbi, jagalah putriku ini. Berikanlah kesuksesan padanya, berikan kebahagiaan padanya, karuniakan kebaikan-kebaikan padanya.

Aku, diusiaku yang ke 42. Sudah harus memakai kacamata kalau membaca. Putri bungsuku, kau hadir sebagai pelengkap kebahagiaanku. Sekarang kau masih dalam jangkauanku. Setiap menit, setiap detik, setiap saat aku masih bisa memelukmu, membelaimu, menciummu. Putriku, kaupun punya prestasi yang luar biasa, tak kalah dengan kakak-kakakmu. Teruslah berprestasi, teruslah berkarya, jangan menyerah, jangan mudah patah semangat. Putriku... Terimakasih kau hadir sebagai pelengkap. Melengkapi kebahagiaanku. Ya Robbi. Tak henti-hentinya kuucap syukur atas karunia-Mu. Jagalah putri bungsuku ini. Berikanlah kesuksesan padanya, berikan kebahagiaan padanya, karuniakan kebaikan-kebaikan padanya.


Aku, diusiaku yang ke 42. Badanku sudah tak sekencang dulu lagi. Betapa bersyukurnya aku memiliki suami yang penuh kasih sayang, penuh perhatian, sabar dan mengerti aku. Terimakasih suamiku, kau telah menjadi pendamping hidupku. Kau telah menjadi bapak dari putra putriku. Terimakasih, kau telah memilihku menjadi pendampingmu, menjadi ibu dari putra putrimu.


Terimakasih Ya Allah, Engkau telah memberikan kepadaku keluarga yang penuh kasih sayang, kebahagiaan dan keberkahan. Terimakasih Ya Allah, Engkau telah memberikan karunia yang besar pada kami sekeluarga. Terimakasih Ya Allah, terimakasih, mudah-mudahan Engkau terus memberikan kebahagiaan kepada kami sampai akherat. Amin.