13 Agustus 2010

Ini lhoh semutnya...

Tahu semut api? bentuknya kecil berwarna merah, biasanya hidup di rumput atau kadang kalau belanja di pasar kaget, suka nongkrong, mengerubuti dan ikut menikmati daging sang penjual sayur. Hampir seukuran semut hitam yang biasa di buah rambutan.

Meski bentuknya yang kecil, tapi untuk kontak langsung dengannya.. rasanya enggak deh. Inget dulu waktu masih sekolah, tiap kali olah raga dilapangan selalu saja mencari-cari tempat yang bebas dari semut api ini. Kalau tidak... jika sang semut sempat menggigit.. tak berapa lama, kulit ini rasanya langsung panas dan gatal. Sudah dicoba melawannya dengan mengoleskan minyak tawon, balsem, kayuputih atau yang sejenisnya dikulit. Tapi tak mempan. Panas dan gatalnya berlangsung lama,bisa berhari-hari. Besoknya akan timbul bentol dan sekelilingnya berwarna merah. Rasa panas dan gatalnya masih saja terasa. Kalau nggak kuat pastilah sudah digaruk sepuasnya. Tapi ini tak boleh dilakukan, karena akan membuat luka yang nantinya malah menjadi koreng.

Nah,ramadhan kurang 3 hari ada undangan arisan di pendopo yang sekelilingnya ditanami rumput. Harus hati-hati menapaki rumput, jangan sampai menginjak sarang semut kalau nggak mau kaki jadi korban. Alhamdulillah, selamatlah sampai juga kependopo dan bisa mengikuti acara dengan santai.

Waktu acara selesai dan giliran pulangnya.. semua orang lewat jalan yang tak kulewati tadi. Sepertinya aman saja jalan ini karena saat acara arisan berlangsung beberapa orang juga lalu lalang melewatinya. Disamping itu hanya semeter melewati rumput sudah bertemu dengan sisi pos ronda yang disemen selebar satu meter. Jadi amanlah untuk teman-teman yang memakai sendal dengan hak tinggi dan runcing, tidak akan terperosok masuk ketanah.

Lewat rumput yang hanya semeter berjalan aman, sampailah kesisi pos ronda. Yah.. namanya nasib,ternyata sampai disisi pos ronda kok ya langsung disambut dengan kerumunan semut api yang sudah berpencar. Sepertinya sempat terinjak teman-teman atau beberapa orang yang lalu lalang sebelumnya. Seorang teman sebetulnya sempat berucap "awas semut mbak!". Tapi ternyata kalah cepet sama gigitan semut yang sudah nangkring di kaki. Cekiiiiitttt!!! Gigitan semut meninggalkan bekas dikaki, ada titik hitam kecil seperti sengatan lebah, tak bisa diambil. Siap-siap deh menahan panas dan gatalnya nanti.

Beberapa hari menahan rasa panas,menahan gatal. Dan bekas gigitan semut api itupun mulai membesar. Kalau diperhatikan ada cairan didalamnya dan sekelilingnya menjadi merah.

"DipecahMa.." kata bungsuku

"Wuiiih..jangan, nanti malah jadi koreng"

Inilah dunia, tak pandang yang besar tak pandang yang kecil. Kalau dipikir seper berapa besar tubuh semut dari manusia? Tapi dengan kekuatannya, ternyata mampu membela diri dengan gigitannya. Ini hanya satu semut lho yang sempat menggigit. Hayuk... masak kita kalah dengan semut.. singsingkan lengan baju membela diri menjaga kehormatan diri, keluarga, nusa dan bangsa ini.

6 Agustus 2010

I ♥ you cantik (sofi)

"6 Agustus. Ya.. sekarang sudah tangal 6 Agustus lagi" Sudah ke tiga kalinya 6 Agustus ini tak bersamamu putri cantikku (Sofi). Apa kabarmu sayang? Begitu tak sabarnya aku menjemput pagi. Paginya disini dan pagi di seberang lautan. Dimana kau, putri cantikku sedang berjuang menuntut ilmu. Menukar kemanjaanmu dengan kemandirian, melawan rasa kangenmu dengan tanggung jawab, membatasi kebebasanmu dengan kedisiplinan. Yup! Mudah-mudahan kau berhasil sayang.

Jariku telah menari-nari di bantal abjad hp, merangkai kalimat yang akan segera kukirimkan ke guru wali kelasmu agar pesanku cepat tersampaikan. Untukmu, putri cantikku. Jemariku juga menari-nari di laptop yang segera saja kukirimkan untukmu, kalau kau buka.. secepatnya akan kau terima ucapanku.

“Selamat Ulang Tahun cantik, hari ini genap sudah 17 tahun usiamu. Sudah saatnya kau mendapatkan KTP dan boleh memiliki SIM (C dan A). Tapi karena jarak yang membentang, ini tak dapat kau miliki secepatnya. Kau harus menunggu libur panjangmu. Lebarankah? atau tahun barukah? Ah, yang jelas ini tandanya kau sudah harus bertanggung jawab atas segala perilakumu. Semoga Allah selalu melindungimu, memberi keselamatan, kesehatan, kemudahan dan kelancaran semua urusanmu, memberikan kebahagiaan di dunia dan akherat. Amin. Pandai-pandailah membawa diri putriku, menjaga kehormatan dan tunjukkan bahwa kamu ada”

Alamat ke nomor yang kutuju sudah ada di layar hp. Satu kali lagi, tekan “ok”, akan segera terkirimlah pesanku. Tapi aku masih harus menunggu beberapa menit lagi, memastikan bahwa saat mengirim pesan ini adalah saat yang tepat bagi guru wali kelasmu yang akan menyampaikan pesanku untukmu, putri cantikku.

Jam dinding di ruang keluarga rasanya melambat, menunggu menit saja rasanya menggemaskan. Tok.., tok.., tok.., detiknya begitu terasakan. Kenapa tak seperti waktu diburu jadwal penerbangan yang seolah jarum jam merambat cepat, bahkan terasa berlari.

Aku masih duduk diruang tamu memperhatikan jarum jam didinding. Nah, sekarang jarum panjangnya sudah menunjuk diangka 6 dan pendeknya sudah menggeser dari angka 7. Yup! setengah delapan tepat, dentumnya telah terdengar. Berarti sekarang setengah tujuh waktu dimana kau berada. Inilah saatnya mengirimkan sms-ku. Saat ini guru wali kelasmu pasti telah siap berangkat ke sekolah dan aku yakin sebelum berangkat akan mengecek nada pesan yang kukirimkan. Begitu melihat pesan singkatku pasti akan segera menyampaikan padamu setelah apel pagi.

Tombol “ok” kutekan, mudah-mudahan saluran telekomunikasi pagi ini lancar, tak ada gangguan. Masih kupandangi layar hp, menunggu laporan pengirimannya. Memastikan laporan terkirim. Lalu muncullan sekelebat, sedetik mungkin “pesan terkirim”. Alhamdulillah, sebentar lagi pesan akan sampai ketelingamu dan aku yakin nanti malam kau akan meleneponku cantik. Akan kupastikan baterai hp terisi penuh sehingga saat kau telepon tak ada kendala "low bat".

Yah! akan kucharg sekarang dan nanti sore lagi, kucharg lagi.

I ♥ you cantik

buat putri cantikku yg sdg menuntut ilmu di magelang (sofi)

2 Agustus 2010

♥ Tooooppp !!! banget..

Software untuk mengedit foto telah terpasang sejak laptop terbeli, ada sekitar setahun lebih mungkin. Tapi karena aku yang menginginkan software ini tak melek teknologi alias gaptek, ya.... akhirnya software adobe photoshop 7.0 hanya jadi pajangan. Kata sulungkku sih ada panduannya di internet, bisa dicontoh kalau mau mengoperasikannya.

"Klik aja ma, nanti bisa kok belajar dari situ" katanya saat ketemu liburan.

Akhirnya kucoba mencari beberapa panduan di internet. Mencoba mengikuti langkah demi langkah seperti tutorialnya yang hampir semuanya menyajikan dengan cara yang super cepat, menurutku. Haiyah! tambah bingung. Lha menu dan simbol-simbolnya saja, aku nggak tahu fungsinya. Gimana ya... Yah!... kesusahan deh judulnya. Inilah akibatnya kalo tak melek teknologi, jadi takut-takut mengoperasikan. Salah nggak ya mencetnya? Ilang nggak ya nanti kalau salah pencet? Jangan-jangan nanti malah rusak dan ilang semua programnya. Hehehe... Emang katrok bener aku ini.

"Pucuk dicita, ulam tiba" Pas bener pepatah ini. Ada kesempatan belajar mengedit foto melalui kursus yang diadakan pengurus PWP untuk seluruh pengurusnya yang 72 orang. berharap semua pengurus melek teknologi. Dan seandainya saja dilakukan rolling kepengurusan, semua bisa menghandlenya.

Kursus gratis! Materinya bagus! Siapa yang tidak tertarik? Informasi awal yang kudapat adalah, siapa yang duluan mendaftar akan dapat jatah di gelombang pertama. Yo.. Yo.. Yo.. ayo daftar! Dengan semangat 45 segeralah kudaftar, berharap dapat gelombang pertama. Dan... Yes!! aku masuk di gelombang pertama. Kemudian dari informasi selanjutnya, akhirnya pendaftar terbilang 47 orang. Wow! Ternyata banyak juga peminatnya ya. Tapi apakah ini akan jadi ikut semua? Nanti kasusnya seperti yang sudah-sudah. Yang daftar bejibun, ee... giliran waktunya kursus tumbang satu-satu. Akhirnya di kelas banyak kursi kosong. Ini kan sayang sekali.

Untuk mengantisipasi kekosongan, perlu diyakinkan benar-benar. "kalau ikut.. ya ikut, kalau enggak.. ya mundur saja" dari pada kelas jadi mubadzir. Dan memang benar, setelah diyakinkan kapan pelaksanaannya ada saja yang akhirnya mengundurkan diri, satu.. satu... Banyak alasan yang mendasarinya, salah satunya pelaksanaan kursus bentrok dengan kegiatan bazaar SP-FPLB yang butuh penanganan serius juga. Akhirnya dari pendaftar yang 47 orang itu tinggal 30 orang saja yang benar-benar menginginkan pelatihan ini walaupun kalang kabut mengatur waktu dengan bentroknya beberapa kegiatan yang ada. Rencana pelatihan tetap dibagi dalam 3 gelombang, ini berarti ada 15 kursi kosong kalau satu kelasnya untuk 15 orang. Dan akupun pindah di gelombang 2 karena menyesuaikan kegiatan yang sama-sama bentroknya. Hmm... minggu-minggu ini memang padat sekali acaranya ya...

Sayang sekali kalau sampai ada kursi kosong, apalagi materi yang akan diberikan sangat menarik. Satu-satunya jalan adalah menawarkan pada anggota PWP yang berminat. Tapi bagaimana caranya menjaring anggota dalam waktu yang sangat sempit. Melalui surat ke Departemen tak memungkinkan lagi. Apa boleh buat, "gunakan telepon dan FB", siapa yang online akan segera ditawari.

Hari pertama pelatihan. Kududuk paling depan (hehehe... seperti murid teladan), enggak juga... Ini semata-mata karena penglihatan ini sudah kurang awas lagi dan biar lebih jelas mendengarnya. Maklum, Bapak pengajarnya ini, suaranya pelan banget. Semakin besar saja penasaranku untuk segera mendapatkan materi kursus, setelah mendengar dari teman-teman yang sudah ikut duluan di gelombang pertama. Katanya sih enak cara ngajarnya, banyak praktek. Hohoho... seperti apa sih kali ini cara pengajarannya? Katanya mudah, ah... masak iya... mudah...? semudah apa..? lha kok yang di internet itu susah sekalil. Apa tidak seperti yang di internet?

Dan memang ternyata mudah mengikutinya. Panduan diberikan sangat jelas, diberikan secara urut dan kita tinggal mengikuti saja contoh yang sudah ada. Hehehe... ini memang mudah karena baru permulaannya, baru panduan dasarnya. Lha entah yang selanjutnya nanti.. apakah masih bisa dikatakan mudah? Tapi yang jelas, sampai saat ini, dihari pertama dan sesi paginya... pelatihan ini sangat praktis dan... sangat menarik.

Belajar dari mulai mengubah ukuran gambar, memotong, mengatur pencahayaan sampai mengatur warna. Belajar menambah layer, menyembunyikan layer, menggabungkan layer, sampai menguncinya.

"Ow! ini tow yang namanya layer?" kataku dalam hati setelah sebelumnya mencoba belajar lewat internet kok nggak mudeng-mudeng waktu kebentur mendapati adanya "layer 1, 2, 3...) hehehe.. karena tak tahu harus diapakan layer-layer itu, akhirnya tombol X (exit) kutekan. Nggak mudeng maksude "judule". Wah, memang benar-benar katrok aku ini! Tapi setelah hari pertama ini.. jadi tahulah aku, walau masih sangat minim. Nggak begitu katrok tow!

Hari kedua pelatihan. Masih sama menariknya dengan hari pertama, bisa dibilang lebih menarik. Belajar beragam efek, tulisan yang seperti timbul, ada bayangan, sampai pencahayaan, gradasi warna, mengeblurkan obyek sampai menyembunyikan obyek yang tak diinginkan.

Sepertinya materi ini sangat disukai peserta kursus, yaitu materi menyembunyikan noda atau jerawat diwajah. Wah, kalau begini ini ya hasil fotonya jadi mulus semua. Hehehe... Tak malu-malu lagi berpose didepan kamera walau wajah bertabur jerawat atau flek. Hohoho... siapa takut??

Kemudian dikasih materi bagaimana belajar memblurkan foto. Yang terlintas saat itu adalah. "Waow!, hasil editannya seperti hasil jepretan waktu belajar fotografi". Yaitu belajar bagaimana harus mengatur diafragma, ASA atau ISO dan speed di kamera. Sangat-sangat menarik materinya ini dan materi yang sebelumnya. Dan untuk teman-teman yang kemarin membatalkan diri tidak jadi ikut pelatihan ini, duuuuhh... sangat disayangkan banget!

Berkesempatan juga belajar bagaimana mengedit wajah, memutihkan dan menggelapkan wajah. Komentar yang ada nih, "Nah lhoh!, begini tow caranya iklan pemutih wajah di TV ituw, ya begini ini tow pasti caranya". Jadi nggak perlu percaya lagi deh sama iklan produk pemutih wajah di TV. Apapun produknya. Heehe.. dasar ibu-ibu.

Hari ketiga pelatihan. Semakin menarik saja pelatihan ini. Belajar memperbaiki foto yang buram. Kok..?? Lha iya memang! Selama ini kita sering tow membuang atau mendelete foto yang buram atau yang rusak, ee... ternyata bisa diperbaiki lhoh! "Jadi teman-teman, sekarang tuh kalau hasil bidikan fotonya buram jangan segera dibuang ya..!" Lha ini malah kita belajar memperbaiki foto-foto "JADUL", foto-foto yang sudah robek dan terkelupas. Bisa lhow.. diperbaiki lagi. Wah, kecanggihan teknologi memang hebat, bisa saja semua dimanipulasi.

Ada yang menarik lagi, yaitu untuk yang berbadan besar alias gemuk... eee... tak usah kuatir difoto, tak usah miring-miring menyembunyikan badan supaya tak terlihat subur. Hasil bidikan fotonya bisa diedit menjadi langsing... hihihi... "siapa hayo yang mau dilangsingkan?"

Terakhir adalah merekayasa wajah. Lhoh ! maksudnya apa? Ini belajar menggabungkan, "wajah siapa... dipasang dibadan siapa...." gitu lhoh!. Seperti yang sering kita dengar dari Roy Suryo yang pakar telematika itu "Foto ini alsi... , Foto ini palsu. Hehehe... baru tahu begini ini cara ngeditnya" Ow..! ini tow caranya merekayasa wajah...

"Hayooo..!!! Siapa yang mau direkayasa pakai badannya peragawati?"

Hihihi.... Tooooppp!!! banget dah!! kursus ini. Kira-kira, sebentar lagi ada gak ya yang nawarin kursus gratis? Hmmmm... siap-siap menunggu berita nih..

"kursus edit audio" mudah-mudahan ini masuk dalam kursus gratis selanjutnya yah.....

21 Juli 2010

♥ Nasyid-an uey...

Masuk di komunitas baru, menjalin persahabatan dengan ibu-ibu pecinta nyanyian. Tidak hanya mendengarkan lhoh.., tidak hanya melantunkan pelan-pelan, tidak hanya melantunkan nyanyian dipanggung sebagai pengisi acara, seperti yang sudah-sudah. Tapi kali ini berjuang membagi suara, pecah suara menjadi suara 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10... Haiyah ngarang! mana ada? yang ada mah orangnya lebih dari sepuluh. hehehe...

Menjelang Ramadhan, menurut perhitungan tinggal 3 minggu atau 21 hari kalau Ramadhannya tepat tanggal 11 Agustus 2010. Seperti biasanya ibu-ibu ini sibuk berlatih vocal, hehehe.... bina vocalia. Belajar bersama-sama mendendangkan lagu religi untuk kepentingan rekaman dan siaran di TV. Mengisi acara sore hari selama bulan ramadhan. Musik pengiringnya seperti biasanya solo electone.

Lagu yang dipersiapkan hanya cukup 3 saja dan akan disiarkan berulang-ulang (tayang kembali), hehehe... yang nonton TV sampai hafal gerakan tubuh dan mimik muka saat dishooting, karena ditayangkan sebulan penuh. Lagu yang dipilih adalah..., apa ya judulnya tadi..? hiiiii.... kok nggak nyambung gini? Entar deh, liat catetan dulu ya..., ow iya "Kebesaran Tuhan" dari es tehnya 12 kalo gak salah, kemudian "Ramadhan datang" punyaknya mas Tompi dan "Sesal kemudian tiada berguna" dari albumnya.. katanya sih AA' Gym, tapi pas denger suaranya bukan suara AA' Gym. Tau' dah suara siapa.

Catatan lagu dibagi, saatnya dapet giliran pembagian suara. Yeee... Seumur-umur nih biasa di sopran, kini dapet giliran pindah ke mezo... weleh weleh ! perselingkuhan nada nih! blajar lagi dong! siiir... pong...udele bodong! Yiihaaaa... diikuti sajjaaa...

Dah 4 kali latihan, tapi suaranya belom kompak juga. Ngambil hu hu hu hu nya aja masih kedodoran. Lanjuuuttt! samakan.. samakan..! hehehe.... sampai selesai latihan yang ke empatpun masih belum kena-kena.

"Hari Senin pengambilan gambar"

Haaaa..!!!! secepat itu? lha gimana ngambil gambar, rekaman suaranya aja belom.

"Rekaman hari Kamis malam"

Haaaa...!!! tambah terkejut. Secepat itu? brarti tinggal dua hari lagi dan itu artinya tinggal satu kali latihan. Wuih.. wuih.. wuih..!! kesampaian nggak ya? antara yakin dan nggak yakin.. yha... diturutin saja. Karena aku kan pendatang, tidak tahu seberapa canggihnya ibu-ibu ini memoles suara dalam waktu yang sangat kilat yaitu tinggal satu kali latihan itu, akan seperti apa hasil rekamannya nanti. Mudah-mudahan saja hasilnya memuaskan. "Kejar Tayang" judule, hehehe...


salut buat ibu-ibu semua, tetep smangat ya..!!

20 Juli 2010

♥ gratisan ! yo ayo... melu !

Ini dibilang pagi apa siang ya? kalau pukul 11.45..hehehe maaf, lagi heng! Saat itu seorang bapak menawarkan kursus photografi gratis untuk 3 orang ibu. Wah! lumayan.. batinku. Tapi.. ini bukan bagianku. Jadi aku hanya mengiyakan saja ketika dijelaskan siapa yang ngadakan, kapan pelaksanaan, siapa yang ngajar dan siapa saja pesertanya.

Meski cuma 3 orang jatahnya, tapi untuk memastikan bisa tidaknya mendapatkan peserta adalah hal yang tersulit. Bagaimana tidak.. jika pelatihan ini memerlukan waktu 3 hari berturut-turut, seharian dan jadwal pembukaan serta pelaksanaan pelatihan hari pertama jam 19.30 - 23.00 wita. Bisa tidak ya? Untuk menjaring minat kursus yang diadakan pagi dan siang hari selama 3 hari saja susahnya bukan main, lha ini malam.. duuuh, siapa ya.. kira-kira yang mau ikut.

Pilihan pertama ke TS, wah.. sepertinya gagal nih. Karena pernah denger kalau dulu nggak mau ikutan kursus karena pengennya privat saja.

Pilihan ke dua ke LR, wah.. sepertinya gagal juga. Karena dia sedang kurang sehat dan harus banyak istirahat, sedang dia sekarang ini juga sedang konsentrasi ke lomba vocal grup yang butuh waktu extra untuk latihan bersama teman-teman.

Pilihan ke tiga, TS. Mudah-mudahan bisa. E..., ternyata sedang tak ditempat alias keluar kota. Yah, gagal maneh.

Masak aku? ya mau gimana lagi.. seneng sih seneng tapi tetep saja kurang mencukupi kuota yang 3 orang. Telpon temen yang lain saja supaya mau mengisi kekosongan.

"Bu, ada kursus Photografi bu, butuh orang ini, karena anggotaku sepertinya kurang. Tapi ini cadangan dulu ya bu.. soalnya belum tahu bisa tidaknya anggotaku. Kalau anggotaku bisa, nggak jadi nggak papa ya?"

"Ok, nanti dicarikan"

Akhirnya jari-jari beraksi, menelpon TS dan menjelaskan panjang lebar. Yeee! berhasil..!! TS mau. Lalu jari-jari kembali beraksi menelpon LR dan menjelaskan juga. Yeee! berhasil lagi..!! pas dah kalau sama aku. Tapi kan nggak lucu kalau aku yang ikut karena ini bukan bagianku. Pengen juga sih ikut tapi harus kusampaikan dulu ke yang lebih berhak. Telpon LW dan menjelaskan. Ternyata LW sudah tahu tapi tak bisa ikut, dia bilang tadi sudah menghubungi RM yang katanya mau ikut.

Hiks.. hiks.. hiks.. agak kecewa juga sih karena aku bakalan nggak akan ikut. Kutelpon juga RM dan menjelaskan.. tadinya memang RM mau ikut, tapi setelah dijelaskan tentang pelaksanaan pelatihan, akhirnya RM mundur. Dalam hati nih, YES!! aku yang jadi ikut. Lumayan...!! dapet ilmu dan gratis.

Kembali jari ini menelpon teman, memberitahu kalau dari anggotaku saja sudah mencukupi kuota.

Hari pertama pelatihan, Jum'at 16 Juli 2010 jam 19.30 - 23.00 wita.
Menjelaskan sejarah, aliran dalam photografi, jenis-jenis kamera dan anatomi kamera. Waduh ! kok ruwet gini.. Ketika sesi pertanyaan diluncurkan malah bingung apa yang akan ditanyakan. Bener-bener nol pengetahuan tentang photografi, keliatannya pesertanya ini udah pada canggih-canggih. Lihat saja kamera yang dibawanya dilengkapi tele. Lha aku, 1 kamera untuk tiga orang. Hihihi... bener-bener nekat masuk ke komunitas penghobby photografi.

Hari kedua pelatihan, Sabtu 17 Juli 2010 jam 08.00 - 16.30 wita.
Materi yang diberikan meliputi, Basic photografi (komposisi, pencahayaan), Etika photografi, Corporate photografi dan Studio Lighting. Akhirnya meski belajar dengan sangat terbatas pengetahuan yang dipunya bisa juga mempraktekkan dengan kamera yang untuk bertiga. Bagaimana mengatur Diafragma, ASA, speed secara manual. Wow ! lumayan hasilnya, maksudnya tahu bagaimana cara mendapatkan gambar yang benar dan melihat hasil gambar yang salah pengambilan.

Sebenarnya masih ada sesi malamnya dari jam 19.30 - 23.00, tapi ini sifatnya tidak wajib. Judulnya sarasehan. Jadi ajang tukar pengalaman dan menunjukkan hasil jepretan tadi siang dan membahas apa yang perlu diperbaiki dari pengambilan gambar. Dari bocoran teman yang hadir dikatakan kalau mengambil gambar sedapat mungkin sebaik mungkin. Keperluan edit photo kalau bisa hanya sebatas croping saja. Dan rahasia seorang Photografer adalah jika memberikan photo hasil bidikan, jangan semuanya dikasihkan. Ambil yang bagusnya saja,kalau semua diberikan termasuk yang tidak bagusnya ayau cacat istilahnya... hehehe nanti keliatan katroknya. hahahaha... ada-ada saja! kalau udah canggih ya pastilah bagus hasilnya. Lha kalau lagi belajar gini ini, ya pasti katroknya.

Hari ketiga pelatihan, Minggu 18 Juli 2010 jam 07.30 - 16.30 wita.
Hey.. hey.. hey..! saatnya hunting photo (human Interest) di Bontang Kuala. Setelah dijelaskan panjang lebar dari hari pertama pelatihan dan mendapatkan materi yang cukup banya. Giliran mencari obyek untuk dijepret kok ya bingung. Opo sing arep difoto? Bontang kuala, tergambar rumah kayu diatas laut yang tak teratur disiang hari... keliatan sekali semrawutnya dan kurang indahnya. Hehehe... apa yang mau diphoto ya? bingung lagi.. bingung lagi.. judulnya. Akhirnya jepret sekenanya...

"Photo rumput laut yang dijemur, terasi yang dijemur, rumah roboh, kucing, perahu yang sedang jalan, panggung, tempat sampah, anak-anak main perosotan, bunga..." jebreeet..!! jebreeer..!! jebreeet..!! lhoh ! apa aja ini yang dijepret???... hehehe asal jepret saja, ow!... tapi tetep diusahakan semenarik mungkin lhoh. Hahaha..!!! tapi nggak tahu ya kalau penilaian sang guru nanti, apa juga termasuk menarik?

Saatnya preview praktek hunting photografi. Seorang teman menampilkan hasil bidikannya... Bagus! Bagus ! Bagus !... yang bener aja... peralatannya beda! dan mereka lebih berpengalaman. Tapi nggak boleh kecil hati. Dengan peralatan seadanya ayo kita tunjukkan hasil bidikan kita! dan hasilnya? Lumayan untuk pemula!

Hmmm, pengen ikutan nggak temen-temen kalau seandainya ada lagi pelatihan seperti ini, selain mendapakan ilmu gratis, perut kenyak karena dapet makan siang dan dapet sertifikat. Dari bocoran seorang teman juga. Kalau ikut kursus seperti ini diluar katanya biayanya 1 juta per hari. "Yang bener???" Terimakasih.. terimakasih.. terimakasih.. sudah mengikutkanku dalam pelatihan photografi ini. Hihihi... kutunggu pelatihan berikutnya, apa ya kira-kira tawarannya?

** Dengan jam terbang yang banyak, dengan sendirinya akan menambah ketrampilan dan mengasah kepekaan dalam melihat obyek yang akan diphoto.
** Siapa mau diphoto ?????

3 Juli 2010

wealaaahhh !! gak nyambung blass !!

Punya tetangga ayam? Wow, salah! maksudnya tetangga yang miara ayam. Terus piaraannya dibiarkan berkeliaran dari pagi sampai sore. Duh, kelakuan siayam bikin gemes, jengkel, nggonduk, pengen ngamuk, marah dan segala perasaan campur aduk. Mau marah sama ayamnya? weih gimana caranya?

Pernah punya cerita nih tentang tetangga yang miara ayam, nggak tanggung-tanggung miaranya. Ada 15 ekor ayam dewasa (hohoho seperti manusia saja, anak-anak, remaja, dewasa, tua), maksudnya ayam yang siap bertelur. Ke 15 ayam ini dilepas dari pagi sampai sore. Kebayang kan tingkah polah ayam-ayam yang tak belajar bagaimana cara bersopan santun datang ke rumah orang, bagaimana cara pup yang benar, bagaimana cara mencari makan yang benar?

Hampir setiap hari nyiram sekeliling pelataran rumah tuk bersihin pupnya kalau nggak mau tahu-tahu sandal atau kaki “clepreeet” nginjak pupnya, taneman yang baru disemai tak selamat, kebun jadi tak indah lagi karena tanahnya berantakan dikais 15 ayam, cat mobil jadi tergores kena kukunya yang tajam. Nggonduknyaaaa selangit.

Padahal sudah ada peraturan kalau tidak boleh miara binatang, selain mengganggu lingkungan dikhawatirkan juga merangsang datangnya binatang lain dilingkungan ini, seperti ular, biawak. Maklum saja disekitar perumahan sengaja dibuat hutan untuk mengurangi pencemaran udara. Tapi ya tetep saja masih ada yang miara.

Satu siang kulihat satu ayam nangkring dipot anggrekku. Wooo! langsung deh habis kesabaran selama ini, mata melotot, dahi mengkerut dan darah mendidih sampai ke ubun-ubun. Anggrek yang sudah digadang-gadang, butuh bertahun-tahun membesarkannya dan sekarang sedang berbunga kok dinaiki ayam. Jari-jari akhirnya bekerja. Kuputar no telponnya dan setelah bersapa kusampaikan maksudku.

“Ibu, maaf ya. Minta tolong ayam-ayamnya dikandangin karena sangat mengganggu saya, saat ini saja ayamnya di anggrek saya, bunga-bunga saya bisa patah bu.

“waduh bu, maaf ya. Tapi nggak bisa sekarang, paling nanti sore ayam-ayam ngumpul baru bisa saya kandangin”

Syukur deh kalau mau dikasih tahu. Dan mudah-mudahan besok akan baik-baik saja.

Akhirnya sehari berjalan dengan ketenangan, tak ada gangguan dari ke 15 ayam. Pelataran tak ada lagi hiasan "pup" berceceran, kebun tak berantakan lagi, mobil tak bertambah goresan dan anggrekku tak patah terinjak ayam-ayam. Amaaann!!

Paginya lagi, ternyat a cukup sehari saja rasa nyaman itu. Ayam-ayam kembali dikeluarkan dari kandangnya. Mau telpon lagi? nggak mungkinlah, bisa berantem nanti. Jadi ya memendam rasa saja, kusabar-sabarkan.

Satu siang lagi, ketika membuka pintu dan kumasuk diruang seterika. Dipojok ruang duduk manis seekor ayam dalam kardus. Yah, ayam mulai berani masuk rumah. Kuusir ayam tapi tetap saja tak mau bergerak dari duduknya yang akhirnya ketahuan sang ayam ternyata sedang mengerami telornya didalam rumahku. Hik hik hik... jari ini kembali memutar telepon ke tetangga.

“Ibu, tolong ayamnya ada di dalam rumah saya dan sekarang sedang bertelor. Bisa diambil ya?”

“Bu, kalau mau ambil saja telornya, nggak apa-apa kok”

Gubrak ! ini gimana sih? aku yang salah apa dia yang nggak ngeh dengan bahasaku? Ibu.... kalau cuma telor aja ya bisalah beli sepiring, nggak perlu ngambil dari ayam. Yang kumaksud itu “cepetan bu ambil ayamnya dan dikandangkaaaan!!!!!”**buat Vini yang lagi sumpek dengan ayam tetangga (hehehe sabar ya non !)

2 Juli 2010

Hueekkk....!! Hueekkk...!!

Jalan-jalan ke Samarinda? Mabok’an nggak? kalau nggak ya amanlah selama perjalanan, kalau mabok’an musti disiapkan dengan serius perjalanannya. Bantal, minyak kayu putih atau balsem untuk bloyoan, obat anti mabuk dan uang receh untuk kerokan. Jaga-jaga aja kalau sampai ditujuan “ambruk”.

Berhubung diriku mabok’an, otomatis siap dong dengan segala sesuatunya (mabok aja sombong!) saat ada janji sama orang imigrasi jam 9-10 pagi (siap-siap aja kalau diajak jalan-jalan keluar negeri, ngarep). Perjalanan ditempuh 3 jam (kelamaan ya?), tapi ya emang 3 jam, kalau kurang dari 3 jam berarti ngebut, buntut-buntutnya mabuk darat tak bisa dihindari dan perlengkapan yang dibawa kepakai semua, ya obat gosoknya, ya uang recehnya, ya bantalnya. Lemes, pucet dan dingin sekujur badan.

Rencana berangkat jam 6 pagi supaya perjalanan bisa agak santai. Tapi karena bawa anak-anak yang persiapannya lamaaaa akhirnya tertunda sampai jam 7 lebih, baru berangkat. Minum obat sebelum berangkat menjadi kewajiban kalau nggak mau ditengah jalan KO. Dan bener saja selama perjalanan aman saja malah bisa disambi ngerajut, lumayan dapet 4 bulatan (sombong karena nggak mabok). Mampir ngisi bensin dulu seratus ribu biar berangkat & pulang aman.

Sampai di kantor imigrasi, mbak Mega yang ngurusin paspor sudah mengantrikan untuk foto. Dapet no 32,33,34,35 dan yang barusan dipanggil no 26, lumayan tidak perlu menunggu lama lagi. Saat menunggu antrian suami mencandai bungsuku tapi dengan nada serius.

“Nanti kan dipanggil satu-satu nggak boleh ditemeni, nah nanti kalau ditanyain harus dijawab yang bener. Gini contohnya, namanya siapa? nama bapaknya siapa? tanggal lahirnya kapan? nggak boleh salah jawabnya, nggak boleh nangis”

“Iya dik, nanti juga ditanyain kenapa bikin paspor? trus NEMnya berapa?” kataku juga dengan serius.

“Ah, masak sih sampai ditanyain NEMnya?”

Akhirnya giliran kami dipanggil. Udah canggih lho sekarang ngurusnya. Fotonya sudah langsung jadi, diprint di berkas-berkas yang kudu ditanda tangani dan cap jarinya sudah nggak butuh tinta lagi. Katanya sih sudah sejak 2006. Wah ketinggalan jaman.

Selesailah mengurus dan tanda tangan di paspor, tinggal menunggu jadinya yang katanya dua hari lagi akan dikirim ke kantor suami. Giliran sekarang bayar ke agen yang ngurus paspor.

“Karena bapak yang bisnis nanti akan dibayar kantor, untuk ibu dan anak-anak per orangnya enam ratus lima puluh ribu”

Weit, mahal ya? meski sehari sebelumnya udah dikasih tahu suami masih saja berat membayar dua juta kurang lima puluh ribu. Apa ini memang udah harga patoknya ya?

Sulungku juga sedang mengurus paspor di Bandung dengan menggunakan agen travel, anehnya untuk setiap pelayanan beda harga, kalau yang sehari tujuh ratus ribu, yang tiga hari lima ratus ribu yang seminggu tiga ratus ribu. Karena nggak buru-buru dipakai, ya udah ngambil yang seminggu aja, ngirit. Perbedaan harga ini, uang apa ya? Uang percepatan ya?

Masih ada waktu tuk jalan-jalan sampai jam 3 sore, supaya sampai rumah tidak kemaleman. Seperti rencana sebelum berangkat. Anak-anak minta dibelikan sandal dan sepatu. Ya hayuk ke mall aja sekalian makan. Sebelum makan mampir dulu nyari film, belilah beberapa film dan habis tujuh puluh ribu. Hmm, pengeluaran tak terencana.

“Bakso komplit” pintaku karena liat gambarnya yang isi mangkuknya komplit

“Mie ayam jamur” kata bungsuku

“Kwe tiow goreng” kata anakku no 2

“Ifo mie” kata suami

Bagus.. bagus..! kalau pesennya beda, bisa saling comot. Minumnya ?

“Juice mangga” kataku

Mama ini, dimana-mana kok pesennya juice mangga. Hampir semua serempak mengomentari pesananku.

“Ya biar aja to, kesukaannya kan sendiri-sendiri. Nggak boleh ada yang minta lho ya..”

Akhirnya dimeja tersaji minuman juice mangga, juice melon, es capucino, teh anget, wedang kopi. Dalam sekejap selesailah acara makan dan giliran bayar. Didepan kasir aku merogoh dompet sambil menghitung-hitung berapa kira-kira habisnya?

“Seratus dua belas ribu bu” kata mbak kasirnya

Weitt, makan siang berempat kok ya lebih dari seratus ribu. Kami berjalan ke toko sepatu mencari sepatu sekolah dan kaos kakinya. Kumpulin nota dan giliranku lagi berdiri di depan kasir.

“tujuh ratus dua puluh lima bu”

Weitt, lembaran uang seratus ribuan terpaksa dikeluarkan dari dompet. Hik hik hik, kok banyak ya... Belum beli sandal lagi, habis berapa lagi ya? Suami menunggu di depan toko. Anak-anak memilih sandal, aku hanya mengamati. tidak ikut-ikut memilihkan, nanti kalau dipilihkan malah sampai rumah nggak kepakai karena nggak sesuai keinginan. Agak lama juga memilih sandal.

“Ayo, kalau memang nggak ada kita pindah ke toko yang lain” kataku saking lamanya menguplek-uplek deretan sandal yang nggak kepilih-pilih.

“Udah kok, lagi diambilin sebelahnya”

Udah cocok semua, giliranku lagi berdiri di kasir membayar tiga ratus enam belas sedang anak-anak menunggu sandalnya dibungkus.

“Mual perutku” kataku ke anak-anak

“Kenapa ma?”

“Mau muntah”

“Lhoh kok tiba-tiba mau muntah?”

“Iya, mau muntah karena ngeluarin duit yang segitu banyaknya seharian ini”

“Yeee, mama. Siapa yang nawarin beli sepatu”

“Iya, nggak apa-apa kalau memang diperlukan dan juga nggak setiap saat beli. Cuma ya hueekkk...! aja ngeluarin segitu banyaknya dalam sekejap”

Semua yang direncanakan untuk dibeli sudah didapat. Saatnya pulang, tapi mampir dulu ke masjid untuk sholat dhuhur dan ashar dijamak. Pilihan jatuh ke masjid pojok depan mall lembuswana karena searah mau pulang. Keadaan agak berantakan sih karena sedang renovasi salah satu gedungnya. Tapi untuk tempat wudlu masih aman.

Setelah selesai sholat, kembali semua naik ke mobil. Mesin mobil dihidupkan dan kata suami tiba-tiba,

“Sudah ini, mampir ke Lembuswana nggak?”

“Tidaaaakkk” kataku secepatnya sebelum didahului anak-anak dan sebelum aku bener-bener hueekk...!

30 Juni 2010

Mulai nol lagi

Dapet rumah dinas dengan halaman yang cukup luas yang hanya ditanami satu pohon jambu air dan pisang sanggar yang raksasa buahnya artinya makan sebuah aja udah kenyang, beberapa tanaman yang nggak keurus dan rumput gajah. Benar-benar halaman rumah tanpa pepohonan. Sepertinya pohon yang ada sebelumnya digali dan dipindah. Terlihat dari beberapa galian yang menjadikan permukaan tanah jadi berlubang-lubang. Panas dong disiang bolong.

Singkat kata jadilah sekarang punya tugas menghijaukan pekarangan. Siapa yang nggak ngiler liat kebun tetangga dan teman-teman yang hijau penuh koleksi baik pohon besar maupun taman bunganya. Apalagi kalau tamannya tertata rapi, bersih dan indah. Pengen juga punya pekarangan yang asri.

Tetangga dan teman yang baik selalu saja menawarkan bunganya untuk kukoleksi, hehehe.. lumayan. Kalau beli pasti habis banyak karena pekarangan ini memang luas sekali. Dapetlah cangkokan jambu air, mangga dan beberapa tanaman hias. Sekali waktu mampir kerumah teman yang mengoleksi anggrek, rasanya betah sekali main di tamannya yang dikanan-kiri bunga anggreknya bermekaran. Namanya rezeki, aku dikasih anakannya dan dikasih tahu ngerawatnya. Alhamdulillah, mudah-mudahan hidup dan tumbuh subur.

Saat berkesempatan pulang ke Jawa, berburulah ke beberapa tempat penjualan bunga, tujuan utama mencari anggrek. Sedang jatuh cinta sama anggrek nih. Bagaimanapun akan kubela-belain bawa dan menenteng naik pesawat. Padahal saat itu sulungku masih suka minta gendong juga. Repot harus menenteng dan menggendong. Ah, bersusah-susah dahulu senang-senang kemudian.

Akhirnya sampailah ke sebuah rumah kuno, dari luar terlihat bermacam-macam anggrek yang sudah besar dan berbunga. Tambah ijo aja nih mata dan bertekat menemui pemiliknya. Setelah berkeliling dan berhitung pilihan jatuh pada pot-pot kecil berdiameter 5-7 centian dengan tunas-tunas setinggi 3-4 centian. Tidak tahu nanti akan menjadi seperti apa rupa dan bentuk bunganya, yang kuingat waktu itu namanya “dendrobium” dan kata penjualnya lagi

“ini nanti bunganya beda-beda, contoh bunganya seperti disana” sambil penjual menunjuk kesekeliling bunga anggrek yang sedang bermekaran.

Alasan memilih yang masih kecil adalah mau belajar ngerawat dari kecil (sok-sokan), dengan jumlah uang yang sama dapet lebih banyak pohon meski belum tahu bisa tumbuh apa tidak dan jenis bunganya, mudah membawanya karena bisa dikardus dan ditenteng.

Saatnya merawat, menyiram, memberi pupuk daun sampai siap berbunga, membasmi kutu dan jamur. Daun-daun mulai tumbuh dan batang-batang mulai membesar. Semua sama bentuk daunnya, bedanya hanya ada yang agak bulat, ada yang panjang dan warna daun mudanya ada yang dipinggirnya keunguan. Penasaran apa nanti warna bunganya. Melihat daun yang hampir sama, suami berkomentar.

“Beli bunga kok sama semua”

“Kata yang jual bunganya beda-beda”

“Gimana tahu beda wong daunnya sama semua”

“Ya ditunggu aja nanti hasilnya”

Memang tak semua berhasil hidup, namanya juga baru belajar bertanam. Ada yang busuk, ada yang lama-lama kering dan mati. Tapi bisa dikatakan penanaman ini berhasil. Tak berapa lama, beberapa pohon keluar kuncup yang bentuknya sama, dan beberapa kuncup berbeda warna. Semakin yakin pasti bunganya nggak sama. Benar juga, setelah mekar kulihat kuntum warna ungu tua, ungu muda, putih polos, putih ditengahnya ungu, putih dilidahnya ungu, putih kehijauan, kuning, ungu terong dan masih banyak lagi. Tidak hanya anggrekku yang berbunga, aku dan suamipun berbunga-bunga.

Saking tertariknya, diakhir pekan suami mengajak jalan-jalan khusus membeli anggrek. Tak tanggung-tanggung dibelinya 10 pohon yang sudah jadi artinya sudah ada bunganya. Saat itu satu pot masih sepuluh ribu. Dan apa pesan suami ketika sampai dirumah,

“Ma, ini jangan diutak-atik ya, nanti biar aku aja yang ngerawat”

Hohoho, ternyata suamiku takut kalau pohon hasil belanjanya gagal kurawat.

“Tidak apa-apa, aku kan punya banyak, hayo nanti punya siapa yang gemuk dan banyak bunganya” jawabku mencandainya.

Tahun berlalu, penggantian arang, memupuk, membasmi kutu dan jamur, pemecahan anggrek kulakukan sendiri dan cukup berhasil. Sedang tukang kebun hanya melihat saja bagaimana aku mengerjakannya. Sampai akhirnya ada kalau seratus pot dan semuanya subur-subur. Setiap batang bisa berbunga tiga tangkai. Siapa yang tidak naksir anggrekku. Batangnya yang gemuk, daunnya yang besar-besar dan hijau. Setiap yang datang kerumah selalu berkomentar dan jika ada yang berminat dan kuyakin orang ini akan merawat pasti kukasih. Aku bisa memberinya satu pot anggrek sudah jadi karena koleksiku sudah terlalu banyak, tak muat tempatnya.

Sekali waktu, karena sesuatu hal kusuruhlah pak tukang kebun membersihkan anggrek-anggrek di pot. Aku yakin dia bisa karena sering melihatku mengerjakannya.

“Pak, tolong anggrek-agrek yang di pot, akarnya yang rusak dibersihkan ya, Dibongkar dulu nanti dikembalikan ke potnya lagi”

Satu dua jam kemudian aku keluar rumah mau melihat hasil kerjaan pak tukang kebun. Dapet lima pot kan lumayan, minggu depan bisa dilanjutkan.

Betapa kagetnya aku ketika baru membuka pintu depan, pak tukang kebun pas dihalaman depan pintu mengayunkan golok ke pangkal akar dan batang anggrek. Mataku melotot dan spontan aku berteriak,

“Pak ! kok gitu motongnya”

“Terus gimana bu?”

“Kan pak Udin udah sering lihat, kan dibersihin aja akar-akarnya yang mati. Bukan dipangkas habis gini”

“Salah ya bu”

“Haduh pak Udin.. ya salah”

“Tadi yang dibelakang begini juga bu”

“Hah !”“Iya bu”

“Terus mana aja yang belum dikerjain?”

“Sudah semua bu”

Lemes aku, anggrek seratusan dipotong akarnya semua dalam waktu satu dua jam. Pak Udin ! pak Udin! Matilah anggrekku !

Terpaksa mulai lagi ngerawat seperti bayi, anggrek ini sakit. Pasti ada yang sembuh tapi pasti ada yang tak bisa bertahan. Kurawat lagi sendiri, merangsang akarnya tumbuh lagi, butuh waktu lama. Sebulan? dua bulan? tak cukup, bahkan sekarang sudah lebih dari dua tahun. Menunggu bertunas lagi, gemuk lagi dan berbunga lagi. Bagaimana bisa berbagi lagi dengan teman-teman, menunggu sehatnyapun ketar-ketir. Hidup nggak ya.. hidup nggak ya..

Sekarang sudah ada yang berbunga lagi, tapi kok bunganya itu-itu saja yang nongol. Mana yang lainnya? apa mati ya?





28 Juni 2010

ayuk berhemat

Punya dua kamar mandi, kamar mandi utama dan kamar mandi keluarga. Dilengkapi jakuzi, shower untuk air panas dan dingin, wastafel, closed duduk. Ditambah satu kamar mandi pembantu yang memakai bak penampung air. Dalam keadaan normal, semua baik-baik saja. Air mengalir cukup deras dan bersih. Kegiatan wudlu, mandi dan thaharah lainnya, memasak, ngepel, mencuci baju, menyiram tanaman sampai mencuci kendaraan dapat dilakukan tanpa halangan. Meteran dilos artinya tanpa batasan pemakaian sehingga air bisa dimanfaatkan secara maksimal. Tapi penghuni rumah tetep diharapkan untuk memakai air seperlunya terbukti didinding kamar mandi dan beberapa tempat ditempel stiker bertuliskan “jangan buang-buang air tapi hematlah”. Jadi jangan coba-coba buka bisnis cucian mobil, ini namanya kebangetan.

Kadang dengan berlimpahnya air kita menjadi kurang peka lingkungan. Mandi dengan air mengucur deras saat sedang memakai sabun, mencuci piringpun tak kalah hebatnya, berkali-kali harus mengingatkan pembantu cara mencuci piring yang hemat air, begitupun dalam mencuci baju dan mencuci mobil.

Nah, giliran ada pengumuman air akan dimatikan untuk beberapa saat mulai jam.. sampai jam.. karena ada perbaikan pipa bocor. Kalang kabutlah kita. Beberapa koleksi ember cucian, segala ukuran panci dikeluarkan untuk menampung air. Ini kalau sempat menampung, kalau tidak.. Barulah terasa betapa butuhnya air, betapa tidak enaknya tidak memiliki air. Apalagi yang mempunyai anak kecil yang setiap saat membutuhkan air.

Ini baru beberapa jam tak leluasa menggunakan air, pernahkah terpikir saudara-saudara kita yang tak memiliki air bersih untuk beberapa hari, seperti para korban bencana alam, banjir, kekeringan?

** Hayuk mulai sekarang kita gunakan air dengan sehemat mungkin
** Buat daerah resapan dan cadangan air dengan menanam pohon-pohon disekitar kita.
** "Apabila ada sebiji palem ditanganmu sedangkan engkau tahu besok mau kiamat, maka tanamlah" dari hadist

23 Juni 2010

Siapa menuai pahala ?

Sore itu. Suara televisi yang sedang dinyalakan tak terdengar jelas, sepertinya hanya sebagai teman saja agar suasananya tidak sepi. Ruangan berukuran 6x6 meter adalah ruang tamu yang sekaligus sebagai ruang keluarga. Rumah ini memang tidak mempunyai ruang tamu khusus, jadilah kegiatannya berbaur dari menerima tamu, menonton televisi, menjawab telepon, membaca koran, majalah, mengaji sampai belajar. Pandai-pandailah berbagi kesempatan. Jika tamu si Tuan datang, maka si Nyonya akan bertahan dikamar sampai tamu pulang. Nyonya hanya keluar sebatas membuatkan minuman untuk tamu dan kembali lagi kekamar. Begitu juga sebaliknya. Anak-anak juga bersikap sama, paling basa-basi sebentar, bersalaman lalu masuk kamar sampai tamu pulang. Seperti keong saja, kamarku adalah rumahku. Sesekali keluar melewati ruangan itu untuk memenuhi keperluannya.

Sore itu Miranda, nyonya rumah itu duduk dilantai sedang membuat bunga dari biji-biji yang beberapa hari ini dikumpulkannya. Ada beberapa tangkai telah selesai dibuat. Sesekali saja pandangannya beralih ke televisi dan sekeliling rumah untuk melemaskan otot lehernya yang sedari tadi menunduk memastikan jari-jarinya tak salah menyusun biji-biji itu menjadi sekuntum bunga. Kemudian menunduk lagi dan asyik lagi dengan kegiatannya. Selain sedang asyik dengan kegiatannya itu Miranda memang tak tertarik dengan acara televisi yang sedang tayang dan Miranda yakin disetiap saluran televisi yang akan digantinyapun akan menyiarkan berita yang sama. “Ah nggak kreatif, bikin berita kok sama!” Begitu kira-kira yang dipikirkannya. Jadi dibiarkannya televisi menyala dengan suara yang tak kentara dan tak ada pemirsanya. Apa mereka para pembuat berita tidak tahu kalau jam tayang mereka saat ini banyak anak-anak yang akan menyaksikan? Apa mereka tidak sadar apa yang akan ditanyakan anak-anak pada para orang tua yang tidak semua orang tua bisa menjawab dengan baik. “Ah, anak kecil nggak usah ikut-ikut”, “sudah-sudah, mama juga nggak tahu!”, “Ais, nggak penting itu” dan mungkin masih banyak lagi jawaban-jawaban yang bernada tak mendidik karena memang tidak tahu bagaimana menjawabnya.

Dalam keterasyikannya memasang kelopak-kelopak bunga, Miranda dikejutkan oleh sosok bayangan diluar jendela. Sosok laki-laki berjalan mengarah ke pintu. Tak jelas siapa orangnya karena jendela tertutup fitrase yang agak tebal. Miranda masih tak beranjak dari duduknya, dia hentikan kegiatannya. Miranda mengamati sambil mengerutkan alisnya, meyakinkan kemana bayangan laki-laki itu berjalan. Dalam hatinya berkata “mungkin hanya orang numpang lewat”. Maklum saja rumah dalam perumahan ini tak berpagar, jadi siapa saja bisa melintas tanpa permisi.

Tak berapa lama dari bayangan yang dia lihat tadi, bel pintu rumahnya berbunyi. Kali ini Miranda harus berdiri mendekati pintu dan mengintip dari jendela siapa yang datang. Alisnya berkerut lagi saat melihat dan mengenal orang yang sedang bertamu kerumahnya. Udin, si tukang kebun yang bekerja dirumahnya setiap hari Minggu pagi sampai sore yang sebulannya dibayar tiga ratus ribu rupiah dengan pakaian hariannya, maksudnya bukan pakaian dinas kerjanya. Berarti dia sudah pulang kerumah tadi. “Ada apa sore-sore datang kerumah? Mau meminjam uangkah dan yang nantinya akan diangsur dengan gaji bulanannya” Pikir Miranda. Miranda memutar anak kunci yang masih menempel di pintu dan membukanya agak lebar.

“Apa pak?” tanyanya

“Mau ngomong sebentar bu”

Dalam hati Miranda berucap “serius amat, butuh uang atau apa ya?”

“Mau minta tolong sama bapak, aku ini bu” jawab Udin dengan logat Sulawesinya. Ow, berarti bukan mau pinjam uang. Kalau hanya mau pinjam uang biasanya juga nggak melibatkan Gilang, suami Miranda. Cukup dengan Miranda saja bisa tertangani.

Miranda dan Udin duduk di kursi diteras rumah. Udin mulai menceritakan keadaannya.

“Aduh bu, pusing aku ini. Mau minta tolong sama bapak supaya saya bisa ikut motong rumput didalam”

“Lho.. bukannya pak Udin sudah kerja, udah habis kontraknya?”

“Itulah bu, sekarang ini hanya lebih satu juta saja gajiku, mau pindah saja aku bu”.

Maksud dari percakapan ini adalah Udin saat ini sudah bekerja sebagai pemotong rumput dengan gaji satu juta lebih, cuma tidak dijelaskan lebihnya berapa. Yang jelas kurang dari dua juta. Mana cukup menghidupi keluarganya.

“Nggak cukup nah bu dengan empat anak, mana empat-empatnya sekolah semua. Ini juga mau bayar untuk ajaran baru. Istri saya juga.. ah.., gajinya Cuma berapa bu, nggak cukup. Itu saja.. gaji saya habis untuk makan. Ah, pusing saya bu”

“Pak Udin, pak Gilang harus gimana? kan nggak bisa masukin orang semau sendiri. Pasti akan dimarah orang nanti”
Miranda benar-benar tidak tahu harus bagaimana.

“Orang-orang yang kerja itu semua ada yang bawa bu. Kontraktornya maunya ada jaminan orang dalam”

Udin terlihat pasrah dengan nasibnya, dan sangat berharap akan bantuan Gilang yang apakah nanti bisa mengusahakannya atau tidak. Miranda sendiri tidak yakin karena suaminya bukan tipe orang yang menitipkan orang atau memasukkan orang untuk bisa bekerja. Udin kembali menceritakan saat terjadi pengurangan tenaga kerja. Teman-temannya yang membawa sponsor orang dalam padahal kalau dilihat kerjanya juga tidak lebih baik dari dia tetap dipertahakan sehinga dapat dipekerjakan lagi saat ada kontrak baru. Udin tidak tahu apa kriteria yang dipakai untuk memilih mana yang dipertahankan, mana yang diberhentikan dan orang baru yang akan dipekerjakan. Padahal dari pengalaman dia lebih lama, lebih berpengalaman dan tidak berbuat macam-macam artinya dia orang yang rajin dan sunguh-sungguh dalam bekerja. Yang dia tahu hanya orang-orang ini titipan dari orang dalam.

Beberapa nama yang menjadi sponsor diabsennya. Nama-nama orang yang membawa teman-temannya untuk bisa masuk atau tetap dipertahankan menjadi pemotong rumput diperusahaan ini. Udin termasuk yang tereliminasi karena tak ada sponsor saat itu. Dia harus berjuang sendiri mempertahankan pekerjaan yang sudak dilakoninya puluhan tahun. Sekarang dibuang begitu saja tanpa pesangon.

“Begini saja pak Udin, pak Udin bikin surat lamaran saja. Nanti kasihkan bapak, supaya besok disampaikan ke yang mengurusi karyawan-karyawan ini. Siapa tahu nanti bisa membantu”

“Saya sudah bawa bu, saya tinggal disini ya bu?”

“Iya, nanti aku sampaikan ke bapak. Nanti malam pak Udin sini lagi, ngomong sendiri sama bapak biar jelas maksudnya”

“Jadi nanti malam saya kesini ya bu?”

Miranda mengiyakan diikuti pak Udin yang berpamitan dengan membawa segenggam harapan yaitu mudah-mudahan lamarannya bisa diterima, bisa bekerja lagi sebagai pemotong rumput dengan penghasilah lebih dari dua juta, bisa membiayai sekolah anak-anaknya tahun ajaran baru ini.

Miranda menutup kembali pintu rumah, meletakkan map warna kuning yang beiri surat lamaran pak Udin untuk bisa diperkerjakan lagi sebagai pemotong rumput. Mudah-mudahan nasib baik menyertai pak Udin, harap Miranda dalam hati.

Serasa baru sebentar Miranda duduk bersama Gilang diruang keluarga membicarakan kedatangan pak Udin tadi sore. Kini bel pintu sudah berbunyi lagi. Miranda yakin ini pak Udin. Gilang segera membuka pintu setelah mengintip dari balik jendela dan melihat pak Udin yang datang. Beberapa saat mereka berdua berbincang-bindang, agak lirih suaranya. Miranda yang duduk di kursi tamu sedang merenda tak bisa mendengar jelas. Tapi Miranda tahu maksud kedatangan pak Udin, seperti tadi sore. Membicarakan surat lamaran yang ditipkan ke Miranda.

Tak perlu lama-lama untuk membicarakan. Pak Udin segera undur diri masih dengan harapan yang membulat. Gilang meletakkan map itu diatas meja pojok ruangan.

”Terus gimana Pa?” tanya Miranda penasaran apa yang akan dilakukan suaminya besok.

”Yah.. nanti diserahkan saja sama yang mengurus kerjaan ini. Mudah-mudahan saja bisa dimasukkan kalau memang dibutuhkan”

”Ke siapa Pa?” tanya Miranda lagi.

”Ke pimpinannya, dia kan yang butuh enggaknya karyawan”

Haripun berganti, surat lamaran titipan pak Udin sudah diserahkan ke pimpinan proyek. Sekarang tinggal menunggu hasil apakah akan ada panggilan atau tidak. Gilang sendiri tidak yakin ada tidaknya lowongan. Gilang hanya menyerahkan dan tidak menanyakan lagi, semua akan diproses sesuai aturan perusahaan. Gilang tidak bisa memaksakan kehendaknya. Gilang tidak punya hak. Walau pak Udin adalah tukang kebun yang bekerja dirumahnya, Gilang tak bisa berbuat banyak. Gilang tak bisa bermain belakang, itu dosa, semua sesuai prosedur. Kalau memang rezeki ya pasti dipanggil. Itulah Gilang.

Seminggu berlalu dari penyerahan lamaran kerja titipan pak Udin. Belum ada tanda-tanda atau kabar surat lamaran kerja pak Udin. Diterima apa tidak ya? Pikir Miranda.

Seperti nyambung saja, pak Udin sudah berdiri didepan pntu rumanya setelah Gilang membukakan pintu mendengar bel pintunya berbunyi. Pak Udin dipersilahkan masuk. Gilang mengambil tempat untuk berbincang didepan pintu masuk. Mereka berdua membicarakan dengan lirih, hampir tak terdengar. Lebih kenceng suara televisi yang sedang dinyalakan. Miranda sendiri sedang asyik didepan komputer mengolah kalimat, sedang membuat cerita dan bungsunya duduk didepannya menikmati acara televisi.

”Ma, coba nomor telepon pak Jupri”

“2596” jawab Miranda singkat setelah melihat di intranet.

Gilang segera menekan angka yang dituju, tak ada yang mengangkat. Dicobanya beberapa kali, tak juga ada yang mengangkat.

“Ma, coba nomor telepon pak Sentot”

“3432” jawab Miranda lagi setelah melihat di intranet

Gilang segera menekan angka yang dituju, tak ada yang mengangkat. Beberapa kali dicobanya menghubungi, tapi tak ada hasil.

“Ma, coba nomor telepon pak Joko”

Sekali lagi jari-jari Miranda menekan intranet mencari nomor telepon pak joko dan menemukannya.

“2667”

Sekali lagi Gilang menekan angka yang dituju, mudah-mudahan kali ini berhasil, harapnya. Tak ada yang mengangkat.

“Pada cuti mungkin Pa” kata Miranda

“Eggak, aku tadi lihat dikantor kok”

Tak putus asa Gilang menekan angka 2667 dan akhirnya tersambung juga.

Pembicaraan berlangsung antara Gilang dan pak Joko beberapa menit. Teleponpun kemudian diakhiri. Gilang kembali berbincang-bincang dengan pak Udin. Entah apa yang dibicarakan sekarang. Dan setelah itu pak Udin mohon diri. Gilang melanjutkan aktifitasnya membaca koran yang tertunda dan Miranda masih asyik dengan komputernya, menekan tuts membuat huruf-huruf menjadi kalimat yang menarik. HP Miranda berbunyi tanda sms masuk. Miranda segera membacanya.

“Pak, saya sudah ke rumahnya pak Sentot. Pintu pagarnya digembok, sepertinya orangnya cuti Pak”

Miranda segera menyampaikan isi sms pak Udin ke Gilang. Pak Udin hanya tahu nomor Miranda makanya untuk menghubungi Gilang hanya bisa melalui Miranda.

”Emang kenapa pak Udinnya kok kerumah pak Sentot?” tanya Miranda ingin tahu perkembangannya.

”Mau dijawab apa ini?” tanya Miranda lagi.

”Nggak usah dijawab, pak Udin hanya memberitahu saja kok”

”Terus gimana akhirnya?”

”Yah, kata pak Joko tadi, ditempatnya tidak menambah karyawan lagi”

Inilah akhir perjalanan lamaran kerja yang dibuat pak Udin beberapa waktu lalu. Allah memang belum membukakan rezeki yang lebih untuk pak Udin. Mungkin inilah yang terbaik untuk pak Udin dan orang-orang disekeliling pak Udin, seperti Miranda dan Gilang sebagai orang terdekatnya. Karena pak Udin adalah tukang kebunnya. Pak Yanto dan istrinya yang mempekerjakan istri pak Udin sebagai tukang bersih-bersih rumahnya. Bagaimana Miranda, Gilang, pak Yanto dan istrinya menyikapi keadaan seperti ini. Akankah hatinya tergerak sedikit untuk membantu meringankan beban pak Udin yang sekarang kebingungan membiayai keempat anaknya yang bersamaan harus membayar uang sekolahnya?

**Dibalik kesulitan seseorang, pasti Allah memberikan jalan keluarnya.
**Dibalik kesulitan seseorang, ada bergelimang pahala. Siapa yang akan menuainya?

18 Juni 2010

♥ Aku sayang Ibu ♥

,big>Jum’at, adalah hari yang istimewa. Beberapa peristiwa yang terjadi dihari Jum’at. Seperti diriwayatkan:

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

Dan Jum’at ini juga ada peristiwa yang istimewa, bertepatan dengan hari kelahiran ibuku sayang, 18 Juni 2010. Genap 60 tahun usia Ibu. "Selamat ulang tahun ibu" . Kutengadahkan kedua tangan kehadapanMu ya Robbi:

“Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani soghiiroo, ya Allah hanya kepadamu aku memohon dengan setulus-tulusnya untuk ibuku. Berikanlah kekuatan iman, keselamatan dunia-akherat, kesehatan, ketabahan dan kesabaran.. Mudahkan segala urusannya, berikanlah rezeki yang agung, yang halal penuh rahmat dan barokah-Mu. Amin YRA”

Ibu, tergambar jelas dianganku...Seorang yang kuat beribadah... Hampir disetiap sepertiga malam terakhir aku sering mendengar gemericik air wudlu ibu untuk bersujud dalam qiyamul lail, tahajud. Kadang kupergoki ibu bersujud sangat lama seolah tak ada jarak antara Engkau ya Allah dengan ibu, kupergoki juga tangan ibu sedang menengadah, nafas ibu sangat kentara dan sesekali menghembuskannya dengan panjang. Apa yang sedang ibu panjatkan?

Seorang yang benar-benar mencintai keluarga, tak membedakan anak maupun menantu, menyayangi ke 12 cucu yang ada, mudah-mudahan nanti bertambah lagi cucu ibu, amin. Menyayangi eyang yang saat ini sudah sangat sepuh dan peduli pada saudara. Seorang yang sabar ketika dikecewakan tapi tegas saat harus mengambil sikap, baik hati dan tak ingin merepotkan siapa-siapa.

Seorang yang tekun bekerja dan kesenangannya adalah bekerja. Betapa betahnya ibu duduk didepan meja kerja dengan kaca mata plus 3-4. Ibu mendisain, merakit hingga larut malam, menghargai sampai menjualnya. Berusaha menepati waktu untuk setiap pesanan sehingga tak mengecewakan pembeli.

Seorang juru masak yang kurindukan. Aku kangen rawon ibu, rendang pete ibu, paklay ibu, oseng tahu ibu jika memasak untuk sahur orang-orang masjid dan masih banyak lagi ibu.

Inilah ibuku. Sosok yang kurindu setiap saat. Suara yang kutunggu disetiap teleponku.Aku tidak mengada-ada. Inilah ibuku. Yang melahirkanku, yang mengajarkanku berdoa sejak kecil. Aku masih ingat doanya.

"Ya Allah, kulo nyuwun pangapunten kagem sedoyo dosa kulo, dosa bapak-ibu kulo, adik-adik kulo lan simbah kulo. Kulo nyuwun dadi anak sholeh, pinter, ayu, sehat" artinya

"Ya Allah, hamba mohon ampun atas segala dosa hamba, dosa bapak -ibu hamba, adik-adik hamba, nenek-kakek hamba. Hamba mohon untuk menjadi anak yang soleh, pinter, cantik, sehat"

Ibu, akhirnya doa ini menjadi doa wajibku waktu itu, doa yang kulantunkan seusai menjalankan sholat wajib sebelum aku mampu memanjatkan doa lebih banyak, selain doa yang diajarkan dengan bahasa arab yang telah kuhafal sebelumnya, yaitu :

"Robbanaa aatinaa fiddunyaa khasanah, wafil aakhiroti khasanah, waqinaa adzaabannaar"
"Robbighfirlii waliwaalidayya warkhamhumaa kamaa robbayaani soghiiroo"

Tak bosan ibu memanggilkan guru ngaji ke rumah, untukku dan adik-adik. Agar aku dan adik-adik belajar membaca qur'an, menulis arab, belajar sejarah islam, akhlak dan masih banyak lagi.

Terimakasih ibu, dengan agama yang kuat sebagai pondasi hidupku. Ibu telah memberiku bekal dikehidupanku dan bekal untuk mendidik putra-putriku.

Maafkanlah aku ibu, jika masih banyak yang tak kupenuhi keinginanmu. Tapi aku akan berusaha lebih gigih.

Aku sayang ibu
,/big>

13 Juni 2010

Dua-duanya harus imbang dong !!

Bang Rhoma..! Pinjam lagunya ya..!

”Begadang jangan begadang.. (sekali-kali bolehlah)
”Kalau tiada artinya.. (ini yang ditunggu-tunggu)
”Begadang boleh saja.. (malah udah menyiapkan kopi dan teman-temannya kok)
”Kalau ada perlunya.. (nonton siaran langsung bola dari afrik)

Bang Rhoma..! terus ini gimana ? kalau setiap lelaki dan tak sedikit para wanita pada begadang memelototi televisi menyaksikan pertandingan sepakbola kelas dunia. Yang katanya siaran langsung. Bahkan weakerpun juga disetel untuk pertandingan yang ke tiga karena main di sepertiga malam.

Banyak yang menyaksikan langsung dirumah masing-masing, masih menemani anak istri sehingga mereka tak merasa kesepian ditinggalkan. Tapi tak sedikit juga yang mengadakan nonton bareng di cafe, restauran, pelataran parkir dan masih banyak lagi yang juga disuguhi aneka hiburan untuk menarik pengunjungnya. Layar dengan ukuran sangat lebarpun dipasang untuk bisa dilihat berpuluh meter dan tak sedikit yang menyelipkannya sebagai ajang perjudian. Apa saja bisa dipermainkan. Dari mulai score sampai siapa yang mendapat kartu merah. Ada yang mau mengelak ?

Banyak yang menonton biasa-biasa saja, tapi tak sedikit tempat yang setelah acara selesai, sekelilingnya menjadi sangat berantakan, sangat kotor. Sampah dimana-mana. Kulit kacang, putung dan abu rokok berserakan dilantai, gelas dan botol tergeletak dibeberapa sudut ruangan. Sehingga besok pagi para istri atau asisten dirumah atau pemilik cafe atau restoran atau petugas kebersihan halaman parkir harus bekerja melebihi kerja biasanya. Kerja keras.

Ini kesenangan dunia, ini tidak wajib ditonton bahkan disunahkanpun tidak. Dan besok juga tak ada test tanya jawabnya. Tapi kenapa hawanya mengarah seolah wajib ditonton ? Apa tidak ada siaran ulang diwaktu yang lebih bersahabat waktunya ? Kalah berita nggak seru ! Ini jadi salah satu alasannya.

Besok bangun kesiangan ! badan lungkrah, mata kuyu, bahkan mungkin ada yang kembung perutnya karena masuk angin, pusing karena kurang tidur dan mungkin juga masih banyak keluhan-keluhan. Tapi anehnya akan diulang lagi untuk malam-malam berikutnya... tak kapok ya..? Padahal tugas pekerjaan tidak berkurang dan harus diselesaikan. Masih mampu mengerjakan dengan kondisi badan seperti ini ? Ah... untung weekend.

Bang Rhoma..! Kalau seandainya sepertiga malam ini semangat nonton bola sama semangatnya untuk mengerjakan tahajud, betapa damainya jagat raya ini. Setiap bibir melantunan asma Allah, bersahut-sahutan dari setiap atap rumah. Atau mungkin ada yang mengajak tahajut bersama ? Dengan persiapan yang juga nggak kalah serunya, seperti kopi, sound system yang mendukung dan tempat ibadah yang nyaman. Ada nggak ya ?

**Tidak salah menikmati dunia asal tidak membuat yang lain menjadi terabaikan bahkan tersingkirkan. Mudah-mudahan sholat subuh tak kesiangan, tahajut tetap dikerjakan dan keesokan harinya tetap semangat beraktifitas.

wadduuhh... !!!

Memerah…
Menggelembung..
Mengeras..
Dan mulai membesar

Oh... nyut.. nyut.. nyut..
Dua hari sudah rasa pedih kurasakan
Dan setiap kali jari ini menyentuhmu
Rasa sakit yang mendera

Butuh berapa lama lagi menuntaskan ini ?
Sedang aku mulai bosan melihatmu
Kuputar otak untuk menyingkirkanmu
Sambil mataku terus mencari-cari sesuatu

Dengan apa aku mempersenjatai diri
Untuk membuatmu lemah
Dan darahku seakan mendidih
Untuk melenyapkanmu

Yang berujung tajamkah ? Pikirku
Ah... jangan ! terlalu sakit
Atau dengan membekap dan menggilasnya ? Pikirku lagi
Tapi dengan apa ?

Owalah... jerawat... jerawat
Nyembul diatas janggutku

12 Juni 2010

Dobrak Pa...

Jum’at, mungkin waktu itu sekitar jam 10.00 wita. Aku sedang di depan kompiku. Mengedit foto menjadi lebih menarik. Bel pintu dibunyikan, tandanya ada yang datang berkunjung. Segera kuhentikan aktifitas yang setengah jadi. Yaahh.. nanti saja dilanjutkan.Berdiri perempuan setengah umur didepan pintu setelah kubuka, hmm maksudnya tidak muda lagi dan tidak tua juga.

”Ibu nyari orang nginapkah?”

”Ya.. dari mana mbak tahu?”

”Dikasih tahu mbak yang dipojok rumah itu Bu” sambil jarinya menunjuk kearah rumah yang berada diujung rumahku.

”Ow.. duduk mbak !”

Selanjutnya kamipun membahas lebih detil. Dari mulai menawar gaji sampai jenis pekerjaan yang harus jadi tanggung jawabnya. Klop sudah..! Kamipun menukar no HP. Gile ! Hpnya canggihan dia dari pada punyaku..

”Jadi.. mau mulai masuk kapan mbak !”

”Senin aja ya bu..”

”Iya mbak.. Senin ya.., jadi enggaknya aku dikasih kabar ya.. supaya aku nggak nunggu-nunggu”

”Iya bu”

Obrolanpun selesai.. Mbak ”Husna” segera pamit karena tukang ojeknya sudah wara-wiri di depan rumah.

Senin pagi, mama Ita (biasa kupanggil mbak..) yang membantuku untuk mencuci dan menyeterika sudah hampir merampungkan semua pekerjaannya. Tapi yang kutunggu-tunggu ”Husna” kenapa belum datang juga ya.. Jadi geregetan juga nih. Padahal sudah ada no HP, kok ya nggak menghubungi kalau nggak jadi. Gengsi donk nelepon duluan. Ke GR-an nanti dianya dan bisa jual mahal belakangnya. Kutahan-tahan untuk tidak menelepon.

”Sepertinya nggak jadi datang deh mbak” kataku pada mama Ita.

“Nggak niat mungkin bu”

“Mungkin nggak cocok gajinya yang kutawar kemarin” jawabku

“Dia kan punya no ibu.. kok ya nggak nelpon”

“Hallah... sudahlah mbak.. nggak mengharaplah”

Masih dihari yang sama, tapi ini benar-benar sudah siang. Sudah jam 11-an. Hpku berdering dengan nada dering... apa ya..? Ah... mbohlah.. Eee... dari mbak Husna.

”Ya mbak..!”

”Ibu.. saya belum bisa masuk skarang. Lagi nunggu ojek temen saya, dianya sekarang lagi kerja. Nanti aja ya bu kalau dia sudah datang saya kesitu”

”Lhah mbak.. emang disitu nggak ada ojek lain?”

”Ada bu.. tapi mahal, sepuluh ribu. Kalau temen saya cuma tujuh ribu. Saya nunggu temen dulu ya bu ?”

”Mbak.. sudah ambil aja ojek disitu. Nanti saya yang bayar”

”Nggak papakah bu sepuluh ribu ?”

”Iya iya... dah berangkat aja”

Kehidupan orang kecil, tiga ribu sangat berarti. Uang saku bungsuku saja lebih dari itu, belum lagi camilannya. Betapa harus bersyukurnya dengan kehidupanku. Nikmat yang tak terukur telah dilimpahkan Allah.

Akhirnya datang juga Husna. Mengawali hari pertamanya menghuni ruang berukuran 2,5 x 2 meter dikamar belakang dan memulai aktifitas sebagai pembantu rumah tangga. Lumayan untuk hari pertama ini, ruang-ruang bersih, cucian piring sudah di rak dan sampai akhirnya waktu tidur malampun tiba. Semua kembali kekamar masing-masing.

Duh..! kesiangan bangun. Sekarang sudah jam 05.30 wita. Eeiit belum sholat subuh.

”Pa.. bangun..! belum sholat subuh..!

Yaahh..! solat sendiri-sendiri. Udah nggak keburu menunggu sholat berjamaah. Udah kesiangan. Selesai sholat dan berdoa aku melesat ke dapur. Lhoh..! kok gorgen belum dibuka..? kok sepi..? wah.. jangan-jangan kerjaan baru nih, bakal membangunkan tiap pagi. Haduuuh...!! Kerjaannya emang beres kemarin.. tapi kalau harus membangunkan tiap hari.. mana tahaaannnn!!!! Kuhampiri kamarnya dan kuketuk pintunya.

”Mbak... udah siang !”

”Ibu..!! saya ndak bisa keluar..!!”

Haahh !! maksudnya apa ? nggak bisa keluar dari kamar. Emang siapa yang ngunci kamar dari luar ? Apa anak atau suami yang ngunci ya.. karena nggak tahu kalau didalam kamar ada orangnya.. Terus dimana kuncinya ? kok nggak ada dipintu ?

”Mbak.. nggak bisa keluar gimana ?”

”Iya bu.. kekunci bu !”

”Mbak nggak tahu siapa yang ngunci..! kok kuncinya nggak ada dipintu..!”

”Ada bu.. kuncinya didalam.. saya yang ngunci !”

”Buka mbak..! diputer kuncinya..!”

Haduh ! jangan-jangan nggak bisa cara mbukaknya. Gawat ! pikirku.

”Nggak bisa bu.. nggak bisa diputar !”

”Ya udah.. kuncinya diambil saja, lempar keluar dari bawah pintu !”

”Nggak bisa diambil bu kuncinya !”

“Coba terus mbak.. dipaksa.. pakai kain supaya jarinya nggak sakit”

Aaahhh.. !! Akhirnya kunci bisa dicabut dari tempatnya dan kini ditanganku. Kuambil dan kucoba membukanya. Lhah kok nggak bisa juga dibuka dari luar. Alamaaakkk!!

“Pa... mbaknya kekunci dikamar”

“Lhoh, kekunci gimana ?”

“Iya.. pintunya semalem dikunci sama mbaknya, sekarang nggak bisa dibuka”

Suami akhirnya mencoba membuka. Dikutak-kutik nggak bisa juga.

“Coba kunci yang lain”

“Lhoh.. ini emang kuncinya, tadi malam yang dipakai mbaknya ngunci dari dalam ya ini”

”Eee... siapa tahu bisa pakai yang lain”

Tetap saja tidak bisa meski dengan beberapa kunci yang dicobakan.

”Didobrak saja Pa”

”Jangan-jangan... rusak nanti pintunya”

”Lhoh gimana lagi dong cara mbukaknya”

”Gimana ya ?”

”Udah Pa.. didobrak saja.. mbaknya juga belum subuhan itu”

”Dulu kayaknya pernah ada yang kekunci dikamar mandi ya.. diapain ya dulu?"

”Ya didobrak Pa.. Mama minta bantuan pak Zul waktu itu. Papa kan lagi nggak ada”

”Mbak.. ! minggir ya.. jangan didepan pintu !”

”Ya bu !”

Suami mendobrak dengan lengan sekali dua kali tidak berhasil.

”Ditendang Pa... dulu juga ditendang kok !”

Tendangan sekali dua kali tidak berhasil. Pintu yang terbuat dari lapisan triplek sompel. Tapi belum berhasil terbuka. Pakai apalagi ya ? Pakai linggis, dicongkel pakai linggis dan didobrak lagi. Aaaahh...!! akhirnya berhasil terbuka, leganyaaa... Alhamdulillah !! meskipun harus mengorbankan sebuah pintu. Yah, harus diperbaiki nanti.

Satu pelajaran hari ini. Kadang kita tidak tahu kesulitan yang sedang dihadapi seseorang hanya karena melihat sekilas keadaan. Sama sepertiku pagi ini saat kulihat pertama kali gorden dapur tidak terbuka dan tidak adanya aktifitas didapur, yang ternyata ada kesulitan besar sedang dihadapi seseorang. Mbak Husna ! maaf ya.

28 Mei 2010

Riani yang terjebak

Riani mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, mencoba meyakini apa yang didengarnya. Dihadapannya duduk laki-laki setengah baya, orang yang dihormati dan dicintainya selain ayah dan ibunya. Berbicara pelan dengan pandangan penuh kasih sayang. Pakde Zaenal sedang melakonkan perannya sebagai penggati orang tua Riani yang saat ini tidak bisa hadir dalam pertemuan yang sangat penting. Riani duduk dalam kediaman, mendengarkan pakde Zaenal menyampaikan aduan Anggito (suaminya) beberapa hari yang lalu.

Sesekali Riani menarik nafas panjang dan melepaskannya, seolah berat sekali bebannya saat ini. Beberapa kali ingin sekali memotong ucapan pakde Zaenal. Tapi diurungkannya, Riani akhirnya memilih diam saja, sebentar-sebentar dia mengangguk. Entah apa arti anggukannya, mengertikah..? mengiyakankah? Setujukah? atau memaklumi apa yang disampaikan pakde Zaenal. Yang jelas pandangan Riani nampak tak bersemangat dan tak mau tahu apa yang diucapkan Pakde Zaenal. Didalam benaknya telah tertancap “aku ingin pisah”

Kenapa kamu minta pisah dengan suamimu? Apa yang salah? Apa tidak bisa diperbaiki lagi? Apa jalan akhirnya harus berpisah? Mestinya ini tidak perlu terjadi Riani. Jangan mengambil langkah dengan emosi. Pikirkan anak-anakmu. Apa kamu tidak kasihan sama mereka? Begitulah kira-kira yang ditangkap Riani dari ucapan pakde Zaenal.

“Angito sudah bercerita banyak. Menceritakan keadaan rumah tanggamu, juga perilakumu di rumah. Menceritakan sebab tidak harmonisnya rumah tanggamu sekarang ini. Sampai pada puncaknya, kamu minta pisah. Dia memang pernah berbuat salah, itu diakuinya. Tapi Riani, apa permintaan maaf Anggito tidak ada artinya? Apa penjelasan Anggito tidak bisa melunakkanmu?

Pakde Zaenal diam sesaat, menunggu reaksi Riani yang sedari tadi tak bergeming, mulutnya terkatup rapat. Riani memainkan ujung kerudungnya sambil matanya mencari-cari apa yang bisa menyejukkan pandangannya. Kemudian Pakde Zaenal berucap lagi..

“Apa kamu tidak takut dimurkai Allah? Ingat Riani, kamu dijodohkan dan dinikahkan dihadapan Allah. Apa benar kamu menginginkan perpisahan ini?”

Riani mengangkat kepalanya lagi, ditatapnya pakde Zaenal. Kegusaran dihatinya kentara sekali, antara ingin menyampaikan dan membela diri.

“Pakde sudah dengar ceritanya mas Anggito kan, jadi untuk apalagi pakde?”

“Riani, apa masalahmu? Anggito minta pakde untuk meyakinkanmu supaya tidak mengambil keputusan yang salah, keputusan berpisah. Nah, sekarang kuncinya di kamu Riani. Kalau kamu bilang tidak menginginkan pisah, maka perpisahan tidak akan terjadi”

“Yang pakde tidak habis mengerti kenapa kamu menginginkan perpisahan hanya karena ingin menikah dengan orang lain diatas balas dendammu. Betul itu yang kamu inginkan? Nyebut Riani, kamu tidak bisa menikah dengan orang yang hanya kamu kenal didunia maya seperti yang dibilang Anggito”

“Riani sudah capek pakde, Riani ingin berpisah. Bukan karena ada orang lain. Itu salah..! Riani cuma tidak ingin cerita.”

“Kalau kamu tidak cerita, bagaimana pakde bisa menyelesaikan masalah ini. Apa jawaban pakde sama Anggito nanti?”

“Sudahlah pakde, Riani hanya ingin pisah. Riani capek ditipu terus. Riani sudah memaafkannya, tapi apa yang terjadi? dia mengulanginya lagi dan mengulangi lagi. Ternyata bertahun-tahun Riani dibohongi, Riani sakit hati pakde”

Pakde Zaenal yang sedari tadi terkesan memojokkan Riani karena terpengaruh aduan Anggito mengerutkan alisnya, sambil wajahnya ditarik kedalam. Memadang Riani penuh tanda tanya. Kemudian mengatupkan kesepuluh jarinya dan menekan ke pertengahan alisnya. Nafasnya dihembuskannya dengan berat. Teramat berat. Dipandangi lagi wajah cantik Riani yang duduk didepannya. Keponakannya ini sedang dirundung duka yang mendalam. Pakde Zaenal kembali mengingat-ingat percakapannya dengan Anggito beberapa hari yang lalu. Anggito membuka sebagian cerita, meminta tolong menasehati istrinya. Tapi kenapa menutupi sebagian cerita lainnya.

“Riani hanya ingin berpisah. Riani sudah memikirkannya. Saat ini Riani sudah memaafkannya tapi tetep ingin pisah pakde”

“Apa tidak ada jalan lain Riani?”

Riani menggelengkan kepalanya. Pakde Zaenal kembali menghembuskan nafas panjangnya. Wajah sedihnya terpancar jelas, menyesalkan apa yang akan terjadi. Menyesalkan nasib keponakan dan anak-anaknya. Seburuk apakah Anggito?

“Riani, meskipun perceraian dibolehkan… tapi ini sangat dibenci Allah. Jangan sampai pakde ikut dibenci Allah karena menyetujui keputusan ini. Kamu mengerti Riani?”

Riani diam, menggigit bibirnya. Kepalanya kembali ditundukkan memandang petak-petak lantai. Hatinya bergemuruh, isi kepalanya terasa penuh.

“Bagaimana kalau pakde membantumu membuat kesepakatan dengan Anggito? Anggap saja ini jalan terakhir sebelum benar-benar terjadi perpisahan”

“Pakde mau tahu keadaan Riani saat ini?”

Pakde Zaenal menatap Riani dalam-dalam. Ditunggunya apa yang akan diucapkan Riani.

“Bulan ini Riani sudah tidak diberi uang. Kata mas Anggito, karena Riani sudah memutuskan untuk berpisah dan mas Anggito menyetujui berarti mas Anggito sudah tidak punya tanggung jawab menafkahi Riani”

Pakde Zaenal tersentak, seperti disambar petir saja rasanya walau Riani menyuarakan pelan. Sekarang ada yang menyumbal dikerongkongan pakde Zaenal, menelan ludahpun rasanya susah sekali. Tiba-tiba lidahnya serasa kaku. Pakde Zaenal tak berucap sepatahpun.

“Jadi sebenarnya tidak perlu lagi mediasi seperti ini pakde. Buang-buang waktu saja mengharapkan mas Anggito berubah, dia tidak akan berubah. Itu sudah sifatnya. Riani capek bersandiwara terus. Harus tersenyum padahal hati remuk pakde. Selalu menutupi kesalahan yang seolah tidak terjadi apa-apa. Banyak sekali masalah yang Riani hadapi dan ini sudah berlangsung lama, inilah puncaknya. Riani ingin pisah, pisah baik-baik. Jadi bohong kalau perpisahan ini karena keinginan Riani menikah dengan orang lain seperti yang diceritakan ke pakde. Bohong pakde. Tidak mungkinlah Riani menikah dengan orang yang tidak dikenal. Setelah perpisahan inipun Riani juga tidak siap untuk menikah secepatnya. Masih trauma pakde. Terlalu sakit pernikahan yang Riani jalani selama ini”

“Sebenarnya mas Anggito juga sudah tidak mau tidur sekamar dengan Riani, ini sudah berbulan-bulan sejak mas Anggito berkenalan dengan perempuan itu. Alasannya capek, sakit, pegel.. ah itu semua hanya alasan supaya mas Anggito bisa bebas menelepon, sms atau chating. Kenapa mas Anggito meminta pakde memediasi supaya tidak terjadi perpisahan ini. Aneh kalau mas Anggito berpikir Riani minta pisah hanya untuk menikah. Apa dia tidak sadar perlakuannya selama ini sama Riani?”

Pakde Zaenal tidak bisa berkata apa-apa. Tidak sesederhana ini rupanya. Dia pandangi Riani yang berurai air mata. Pakde Zaenalpun tak kuasa membendung anak sungai dipelupuk matanya.

Ruang tamu kini kembali sunyi, pakde Zaenal larut dengan pikirannya, apa yang akan dilakukannya setelah ini. Rianipun masih terisak menahan tangisnya. Kemudian pakde Zaenal berdiri dan mendekati Riani. Diletakkannya tangannya dipundak Riani. Ditatapnya wajah Riani dan dicium rambutnya.

“Kenapa tak kau ceritakan dari awal sebelum semuanya mengkristal Riani. Besok pakde akan bicara lagi dengan Anggito, berdoalah yang baik-baik Riani. Ingat..! perceraian sangat dibenci Allah. Kuatkan hatimu”

Pakde Zaenal kemudian berpamitan, dalam langkahnya terselip kepedihan. Apa yang akan disampaikan ke ibu Riani nanti.

**Keluarga sakinah bukanlah sebuah takdir, tapi sebuah pilihan. Untuk menggapainya harus berusaha dan punya keinginan. Rasa saling menghormati antara suami istri & mengerti akan hak dan kewajiban adalah syarat menggapai keluarga sakinah.

25 Mei 2010

PUISI UNTUK SAHABAT

SAHABAT..
KETIKA PENANTIAN TUK BERLABUH SEMAKIN DEKAT
AKU JADI INGIN MENGINGAT SEMUA
TENTANG PERTEMUAN KITA
TETANG LANGKAH-LANGKAH KITA
TENTANG ASA KITA

TAHUKAH SAHABAT...
BETAPA KOKOHNYA PERAHU KITA
TERLIHAT DARI BANYAKNYA OMBAK YANG MENERJANG
DAN GELOMBANG YANG BERUSAHA MENENGGELAMKAN
TAPI KAU TETAP MEMBERI KEYAKINAN
BAHWA KITA AKAN BISA MELALUINYA

DAN KAU BENAR SAHABAT..
AKHIRNYA KITA BISA MEMBUAT KENDALI
DAN PENAKU AKAN MENGGORES MEMBERI ARTI
MEMBAWA CERITA SAMPAI KE PELABUHAN
MEMBAWA JANJI YANG TAK PERNAH MATI
MEMBAWA ANGAN YANG TAK PERNAH PADAM

SAHABAT..
JIKA TELAH BENAR KETEPI
SINI.. KUBISIKKAN DITELINGAMU
AKU MENYAYANGIMU..
AKU MERINDUKANMU..
AKU MOHONKAN DOA UNTUKMU
AKU JUGA MEMOHON MAAF DARIMU

22 Mei 2010

Puisi untuk Bundaku

Bunda...
Kita telah melewati waktu yang tak sedikit
Banyak cerita terukir dalam kebersamaan kita
Banyak kesan yang mengikat dan terlukis dalam hati kita
Ada yang menggelinding sempurna
Ada pula yang menggelinding kesusahan karena terjal

Bunda...
Betapa manisnya kita dipertemukan
Ada begitu banyak senyum menghiasi tatapan saat itu
Menandakan keikhlasan tali silaturahmi diantara kita
Dan berharap hati yang berbeda dapat saling bertaut
Sehingga kita dapat berjalan beriringan

Bunda...
Ada hari yang indah tuk dijadikan kenangan
Disaat kau berusaha menemaniku dalam keriangan
Disaat kau berikan semangat ketika aku mengejar prestasi
Bersama-sama menggenggam asa
Sehingga cerita yang kita rangkai menjadi sarat makna

Bunda...
Ada banyak kisah mengiringi kebersamaan kita
Kau genggam tanganku dengan tulus ketika dalam duka
Kau buka telinga lebar-lebar dikala aku berkeluh kesah
Sehingga hati ini kembali tenang
Sampai saatnya aku dapat tersenyum lagi

Bunda...
Kita lalui hari-hari kebersamaan penuh warna
Semua memberi kesan tak terlupakan
Bila kudisuruh bercerita
Harus kubutuhkan lebih dari seribu kata untuk mengurainya
Padahal seperti baru saja kita dipertemukan

Bunda...
Kenapa saat ini terasa cepat sekali waktu berganti
Ingin rasanya menghentikan walau hanya sesaat
Agar kita bisa lebih banyak lagi membuat cerita
Agar kita bisa lebih banyak lagi membuat kenangan
Sampai bingkai-bingkai kita tak terhitung

Bunda...
Ketika tiba saatnya kita dipisahkan karena aturan
Ingatlah selalu padaku
Bahwa kita telah dipertemukan untuk membuat kisah
Sehingga kita akan saling merindukan
Walau jarak kan membentang diantara kita

Bunda...
Kuucap terimakasih dengan tulus padamu
Karena telah menemaniku hingga saat ini
Kumohon maaf dengan tulus padamu
Bila lakuku tak menyejukkanmu
Agar hati kita tetap putih selamanya

Bunda...
Kuberharap dengan sepenuh hati
Perpisahan ini janganlah menjadi akhir dari cerita kita
Karena banyak cara yang masih bisa dilalui
Bahkan mungkin kita masih bisa bersua lagi
Melanjutkan bingkai-bingkai yang tertahan

Bunda...
Saat ini ijinkan kuucap selamat jalan padamu
Mengantarmu dengan doa setulus hati
Semoga terlindungi setiap langkahmu
Semoga diberkahi setiap nafasmu
Semoga dikaruniai kebaikan

Bunda...
Ijinkan kubisikkan ketelingamu dengan lebih lembut lagi
Aku akan selalu menyayangimu
Aku akan selalu merindukanmu
Aku akan selalu mendoakanmu
Dan dengan tulus aku memohon maaf darimu

Anakku sayang

Nak.. Tadi malam hujan turun deras sekali. Tapi niat ayah & ibu untuk menemui pakde & bude tak surut hanya karena takut basah & dingin. Ayah & ibu tetap berangkat, apalagi telah sekian lama ayah & ibu tak bersua mereka. Rasa kangen ingin bertemu, ingin mengabarkan, ingin melihat keadaan mereka saat ini begitu kuat. Apakah mereka sehat-sehat saja? Apakah wajah-wajah mereka masih sama seperti saat terakhir kali bertemu?

Nak.. Akhirnya ayah & ibu benar-benar bertemu mereka. Dalam derasnya hujan, pakde dengan payung ditangannya membuka pintu pagar rumah dan mendekat untuk membantu ayah & ibu keluar dari mobil yang karena di mobil ini ternyata tak ada payung. Ayah mengambil payung dari tangan pakde dan mengantar pakde masuk rumah baru menjemput ibu.

Ayah & ibu cepat masuk rumah untuk menghindari tetesan hujan. Pakde & bude menyambut salam. Sayang sekali keadaan malam itu gelap karena jaringan listri sedang dimatikan, sehingga tak terlihat raut wajah kegembiraan & pelepasan rasa kangen dalam pelukan kasih sayang pakde & ayah, begitu juga antara bude & ibu. Hanya suara yang masih dapat menggambarkan kegembiraaan kami semua saat itu.

Nak.. Akhirya kami semua duduk diruang tamu, saling memberi kabar, saling menanyakan keadaan dan masih banyak lagi, obrolan telah cukup panjang lebar. Satu obrolan sangat menarik dari semua obrolan malam itu. Ada yang ayah & ibu dapatkan sebagai pelajaran malam itu. Pakde berucap seperti ini,

Kewajiban orang tua kepada anak-anaknya itu adalah:
1. Memberi nafkah
2. Memberi pendidikan
3. Menikahkan

Nak.. Insya Allah.. ayah & ibu tidak akan lalai melaksanakan kewajiban ini. Ayah mencari nafkah dengan sungguh-sungguh, berharap dengan ridho Allah mendapatkan rizqi yang halal dan ibu akan memutar otak untuk mengelola penghasilan ayah, memenuhi kebutuhan kalian. Dengan doa yang tulus, berharap kalian tumbuh besar, sehat, tak kekurangan suatu apapun. Ayah & ibu akan berusaha semaksimal mungkin membuat kalian mengenyam pendidikan yang baik & beragama yang baik. Berharap dengan pendidikan yang kalian miliki bisa menatap masa depan dengan baik dan benar karena telah dilandasi agama. Ayah & ibu juga akan berusaha semaksimal mungkin mengantarmu. Jika harimu sampai, jika saat itu datang. Yaitu ketika kalian telah memilih mengikuti sunah rosul untuk membina sebuah keluarga. Ayah & ibu akan terus berdoa untuk kalian, untuk kebahagiaan kalian.

Nak.. kemudian pakde berucap lagi..
Jika tiga kewajiban ini telah dilaksanakan, usai sudah kewajiban orang tua. Tak ada kewajiban untuk membuat anak menjadi kaya, lebih kaya dari ayah & ibu. Tidak..! Rizqi anak sudah digariskan Allah.

Nak.. Siapa yang tidak ingin anak-anaknya lebih maju, lebih kaya, lebih bahagia dari dirinya. Tetapi ingat, kewajiban ayah & ibu telah selesai saat itu. Jadi, carilah rizqimu, berusahalah dengan sunguh-sungguh. Jikapun ayah & ibu bergelimang harta, janganlah berharap menjadi milik kalian. Ayah & ibu mungkin hanya emberikannya sebagai hadiah.. tapi bukan kewajiban lagi. Ingat itu..!

Nak.. Dari itu ayah & ibu ingin membuat kalian mengerti. Rajin-rajinlah belajar agar pendidikan yang kalian tempuh membawa manfaat sebaik mungkin, berusahalah dengan sungguh-sungguh menggapai cita-cita, pegang teguh tuntunan agama sebagai landasan berpijak. ayah & ibu akan selalu mendoakanmu.

KEINGINANKU

catatan yg tersisa dari tugas sekolah putraku (SMP)

Waktu demi waktu
Kutempuh perjalanan hidupku
Untuk prestasiku
Demi masa depanku

Seandainya waktu adalah milikku
Kan kuulang hidupku
Dengan langkah yang baru

Terkadang, Tuhan memberikan kegagalan kepadaku
Bagiku kegagalan memang buruk
Tapi bagiNya itu mungkin yang terbaik buatku

Ya, Tuhan
Sembahku padamu
Jadikanlah dakuSiswa yang berilmu

Andi Mirza Zakaria2C. absen: 4

8 April 2010

Nasib... Nasib.....

Hari ini benar-benar diuji kesabaranku, setelah kudapati SMS yang baru sempat kubuka 3 jam dari waktu pengirimannya. Dibuat dalam 2 kali pengiriman. Bagaimana tidak marah jika bunyi SMSnya seperti ini, pertama:

“Mbak, suami saya itu sudah tahu, tapi kenapa mbak pertama telpon ke kantor dan sekarang pakai kirim fax segala. Suami saya tidak akan pernah marah sama saya karena suami saya sudah tahu. Dan apa jawaban suami saya waktu mbak ngasih tahu? Pasti kan disuruh sabar. Makanya itu yang sering saya jawab ke mbak. Karena uang tersebut, kan saya harus minta ke suami saya. Ada orang yang masih punya hutang ke saya dari tahun 2005 tapi saya tidak pernah telpon suaminya ke kantor dan tidak pernah kirim fax segala, tapi tetap saya ingatkan”

Gemuruh didadaku seakan terdengar sampai ke ruang tamu, dag dig dug... dag dig dug. Ingin berteriak, ingin memaki, ingin kutelepon langsung dan mengumpatnya.”Dasar nggak tahu diri, dasar pembohong, dasar pengkhianat, ngapain ngurusi utang orang ke kamu, yang penting utang kamu ke aku cepat dibayar!!!!” dan mungkin seribu makian lagi akan kuucapkan. Seakan sekujur tubuhku terbakar siap melalap sekelilingku. Segera ku beranjak dari tempat duduk yang terasa tidak nyaman lagi, kakiku juga terasa tidak nyaman melangkah, gemerutuk jari-jari tangan dan gigiku mengiringi gerakan tubuhku. ingin kulampiaskan kemarahan.

Aku terus berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Tapi kemudian.... aku kembali duduk di bibir tempat tidur, ditanganku masih terpegang HP siap membaca SMS lanjutannya. Kaki mulai kuselonjorkan.

“Ya Allah... kendalikan amarahku, jangan sampai aku bertindak ceroboh karena marah yang membara”

Kuucap istighfar berkali-kali sampai akhirnya bisa kutenangkan. Alhamdulillah kepalaku masih bisa mengendalikan deguban amarah didadaku. Meskipun nafasku masih belum normal. Maka kubaca SMS selanjutanya.

“Walau dia lambat bayarnya sampai sekarang. Tidak sombong, hutangnya beliau ke saya masih tujuh setengan juta. Sekali lagi saya tidak akan mau tahu dengan ini. Maaf ya mbak! saya juga dagang, tahu kok. Sekali lagi saya minta maaf lahir batin”

Harus kubalas SMSnya, secepatnya. Mulai dari mana ya? Apa harus kubalas kata-katanya dengan amarahku juga? Ya...? Tidak...! tidak perlu dengan kata-kata kasar, tidak perlu dengan kalimat-kalimat menyakitkan. Bukan berarti aku pengecut dan takut. Aku difihak yang benar kenapa harus takut. Aku punya bukti-bukti. Aku hanya tidak ingin menjadi lebih runyam dan malah tidak terbayar hutangnya. Harus kujelaskan mengapa sampai kulayangkan email ke suaminya bukan fax seperti yang ditulisnya di SMS. Tak mungkin kujelaskan dengan mengirim SMS padanya. Lalu pakai apa? nggak mungkin juga pakai email suaminya seperti yang kulakukan sebelumnya.

Untunglah kemajuan teknologi dengan adanya Face Book yang kubisa walau sedikit, dapat mempermudah keadaan setelah bertanya pada anakku yang sudah pulang dari sekolah. Kucari alamat email di daftar pertemanan dari seorang teman dan akhirnya kudapatkan alamatnya. Segera mulai kuketik kalimat demi kalimat untuk menjelaskan keadaan.

Kuawali dengan ucapan salam dan selanjutnya,...

“Mbak, sebelumnya saya minta maaf kalau email saya ke Bapak perihal “Permohonan pelunasan hutang mbak” menjadi rumit. Ini saya lakukan karena ketika saya SMS untuk mengingatkan uang yang harus dikirim ke saya tidak diindahkan bahkan ketika saya kirim berkali-kalipun tidak ada jawaban, sekalinya dijawab malah bertanya INI SIAPA? padahal sudah kutulis dengan jelas nama saya beserta nama suami saya. Kemudian saya diberikan no yang lain, akhirnya kuulang SMS dan kukirim sesuai dengan no yang harus saya tuju. saya tunggu tidak aja jawaban. Kembali kuulangi mengirimi berkali-kali dan akhirnya dijawab tapi herannya yang menjawab suami Mbak yang intinya permintaan maaf tidak bisa mengangsur karena sedang ada urusan masa depan, saya memakluminya meskipun tidak diuraikan apa urusannya. Yang jelas dalam hal ini suami mbak TAHU permasalahannya, yaitu hutang mbak kepada saya yang belum terlunasi. Dan heran lagi saya diberikan no mbak, no yang sama saat saya kirim SMS ke mbak waktu itu”

Kembali aku membuka SMS lama yang sengaja kusimpan untuk mengingat-ingat kapan saya harus meng SMS untuk mengingatkannya melunasi hutang, baik SMS yang kukirim maupun yang kuterima. Kulanjutkan menulis di email...

“Beberapa bulan kemudian saya kembali mengirim SMS ke no mbak, tapi tak dibalas. Saya harus mengirim lagi berkali-kali yang kemudian dijawab akan dibayar nanti sore dan anak mbak yang akan mengantar ke rumah saya. Saya tunggu tapi tidak datang dan mbak tidak memberi kabar. sampai akhirnya saya harus mengirim SMS kapan akan diantar? Disitu mbak menjawab karena kegiatan yang penuh tidak sempat mengantar dan mbak berjanji besok pagi akan dititipkan anak mbak waktu berangkat sekolah untuk mampir kerumah saya. Saya benar-benar berharap untuk hari besok. Dan akhirnya janji ditepati, tapi jumlahnya sangat kecil dari perkiraan saya karena seharusnya sudah dilunasi”

Kulihat catatan hutangnya untuk mencocokkan keadaan waktu itu supaya aku tidak salah dalam menjelaskan di email yang sedang kubuat. SMS dan catatan hutang saling kucocokkan. Setelah benar-benar yakin, kutulis sesuai fakta yang ada. Aku tidak mengarang keadaan...

“Setelah pembayaran yang pertama ini, mbak tidak membayar lagi sampai beberapa bulan walau sudah saya kirimi SMS untuk mengingatkan, jawaban SMS juga tidak saya terima. Hampir setiap bulan saya harus berkirim SMS yang nol hasilnya. Baru kemudian ada pembayaran lagi, itupun juga dengan jumlah yang sangat kecil jauuuuh dari yang seharusnya. Dan setelah itu tak ada lagi pembayaran selama berbulan-bulan lagi”

Kubaca lagi email yang sedang kubuat untuk mengecek lagi. Apakah sudah sebegitu jelasnya, apakah sudah urut dan apakah bahasa yang kupakai bisa diterima dengan baik? Setelah kurasa sudah cukup gamblang mulai kuketik lagi...

“Bagaimanapun saya tetap harus mengirim SMS mengingatkan sisa hutang mbak yang seharusnya sudah lunas, saya punya hak untuk dibayar mbak. Kemudian saya mendapat jawaban dari mbak yang intinya akan mulai mengangsur bulan Nopember 2009, saya sangat kecewa karena barang yang seharusnya sudah lunas baru mau diangsur lagi. Jadi berapa lama lagi akan terlunasi? Saya pegang janji mbak untuk mengangsur bulan Nopember 2009. Makanya setelah mendekati bulan yang dijanjikan saya kembali melayangkan SMS dan Alhamdulillah akhirnya terbayar walau jumlah yang dibayar juga masih jauh dari keinginan saya, tapi saya berharap bulan depannya saya akan mendapat angsuran lagi”

Kubuka lagi email yang kukirim ke suaminya dan kubaca, apakah ada yang salah dalam penyampaiannya tadi. Tapi ketika kubacakan pada suamiku, suamiku menjawab tidak apa-apa dan sudah sopan juga jelas penyampaiannya. Jadi tidak masalah menurutku.

“Ketika bulan Desember saya mengingatkan lagi, mbak jawab kalau pembayaran akan didobel di bulan Januari 2010. Apa salah bila bulan Januari 2010 saya mengingatkan lagi dan mengingatkan pembayarannya dobel dengan bulan Desember? saya mendapat jawaban yang intinya belum bisa membayar angsuran karena ada keperluan mendadak dan mbak janji lagi akan dibayar suami mbak waktu gajian yaitu akhir bulan dan waktu penerimaan bonus. Lagi-lagi saya kecewa dan bertubi-tubi. Maka saat sudah mendekati akhir bulan saya mengirim SMS lagi mengingatkan lagi dan dijawab mbak dengan menanyakan sisa hutangnya dan menanyakan no rekening yang diminta suami mbak. Saat itu saya sangat senang karena sepertinya sisa hutang akan dilunasi. Dan ketika keesokan harinya kita bertemu dalam suatu acara yang sama, mbak mendekati saya dan mempertegas bahwa akhir bulan akan dibayar dua setengah juta dan sisanya akan dibayar saat bonus keluar. Cuma yang saya jadi bertanya-tanya waktu mbak bilang kalau suami mbak TIDAK TAHU masalah ini. Saya hanya bisa mengiyakan saja karena disekeliling saya banyak ibu-ibu. Saya juga tidak ingin orang-orang tahu permasalahan ini”

Mataku sudah terasa pedih dan leherku sudah pegal-pegal, tapi aku harus menyelesaikan urusan email ini secepatnya supaya tidak ada masalah lagi. Berkali-kali kuuraikan tanggal kejadian supaya tidak terjadi kesalahan.

“Tanggal 1 Pebruari saya dikejutkan oleh SMS dari no HP suami mbak, isinya minta maaf karena baru bantu adik yang emergency. Saya tidak mengerti maksudnya makanya saya balas dengan menanyakan apa maksudnya mengirim SMS tadi. Tidak ada jawaban saat itu dan baru terjawab keesokan harinya dengan menjelaskan bahwa mbak memang minta uang untuk bayar hutang ke saya, lalu mempersilahkan saya untuk menelepon dan memang benar kalau saya sebaiknya tidak telepon ke kantor. Tapi SMS ini saya terima jam 06.46 dan baru saya buka ketika jam kantor. Jadi saya putuskan untuk menelepon ke kantor dan menginformasikan bahwa mbak punya sangkutan hutang pada saya yang belum terlunasi. Suami mbak waktu itu menjawab akan bicara dulu sama mbak. Siangnya saya mendapat SMS dari mbak kalau jumlah sisa hutangnya dikirim saja ke HP suami mbak. Maka saya kirimkan beserta no rekening saya ke HP suami mbak dan mbak sendiri padahal akhir Januari baru saja saya kirimkan. Apakah tidak disimpan mbak? Saya menunggu kabar bahwa uang telah dikirim ke rekening saya tapi tidak ada berita sampai kemudian tiga hari sesudahnya saya mendapat SMS dari no HP suami mbak yang intinya mengatakan kalau sudah terima SMS saya dan akan bicara dengan mbak tapi belum bisa ngasih uang. Saya ingin menjelaskan rincian hutang mbak dan pembayarannya supaya catatannya bisa disimpan dan dibuka lagi, karena dengan SMS yang saya kirim sepertinya tidak tersimpan. Maka saya putuskan untuk mengirim email ke suami mbak”

Aku sudah sangat tenang dalam menyikapi SMSnya, tidak seperti waktu pertama membaca. Dada yang gemuruh, marah, makian yang ingin kulontarkan dan mungkin sumpah serapah kutelan sendiri. Kulanjutkan merangkai kalimat penutupnya...

“Tolong direnungkan pesan saya ini dengan suami mbak dan diingat kembali ketika mbak datang kerumah siang-siang untuk menghutang kain-kain saya yang katanya akan dipakai acara perkawinan keluarga yang waktunya sangat mendesak sehingga mbak cepat mengambil keputusan untuk memiliki kain-kain tersebut. Mudah-mudahan dengan merenungi pesan saya ini, mbak dan suami mbak tergerak untuk segera melunasinya. Apalagi mbak juga berdagang, tahu kan rasanya jika hanya dijanjiin saja. Inilah jawaban dan penjelasan saya sehubungan dengan SMS mbak yang sepertinya marah sama saya. Yang penting kewajiban saya sebagai seorang muslim yang memberi hutang sudah terpenuhi yaitu mengingatkan dan menagih. Sekali lagi saya juga minta maaf”

Selesai sudah emailku, sebelum kukirimkan kubaca lagi apakah ada yang terlewatkan. Setelah kurasa cukup segera kukirimkan. Klik “SEND”

“Oh tidaaaaaaaak!”

Email tidak bisa kukirim, ada pesan yang harus kupilih, apa ini “try again” or “cancel”. kupilih try again. Tak ada reaksi, kutunggu beberapa saat tidak juga berubah. Kutekan lagi pilihan try again. Lagi-lagi tidak ada reaksi. Lalu kupilih cancel.

“Oh tidaaaaaaaak!”

Tulisan yang sudah kubuat hilang begitu saja, tak tersimpan. Ingin menangis, jengkel, menyesal berkecamuk dikepalaku. Kenapa tadi tak kubikin dulu di komputer baru kusalin di email? kenapa tadi kupilih cancel?

“Diiiiik!!! tulisan di email mama hilang gimana dong?”

“Ya harus bikin lagi ma” jawabnya enteng.

Dalam keadaan menyesali itu Hpku mengisyaratkan ada SMS masuk. segera kubuka dan ternyata no dari suami mbak yang akan kukirimi email. Ada apa lagi?

“Mbak, saya dan istri saya minta maaf lahir dan batin karena masalah istri saya. Sebenarnya istri saya sudah berkali-kali ngomong. Saya minta mbak sabar dan kasih waktu. Maaf ya mbak! atas semua yang dilakukan istri saya”

Aku kembali ke tempat tidur, dengan posisi tidur mulai kupikirkan apa yang baru saja kulakukan dan apa yang baru saja terjadi. Ya Allah, apakah ini memang jalanku untuk tidak berkirim pesan kepada orang yang berhutang kepadaku supaya aku terhindar dari keributan yang lebih besar? Lalu kuraih HP dan membaca lagi pesan pesan yang disampaikan. Jari-jariku mulai menekan tombol-tombol membuat balasan....

“Pak, maksud saya mengirim email bukan untuk mencari masalah dengan bapak dan ibu. Saya ingin bapak punya catatan dan kronologi mengapa saya mengirim email. Tidak mungkin kan saya kirim lewat SMS, karena butuh berkali-kali dan draffnya juga tidak bagus, dan lagi kemungkinan terhapusnya besar karena keterbatasan memori. Saya juga minta maaf karena sepertinya ibu marah pada saya karena email yang saya kirim dan saya menelepon ke kantor”

Kemudian kutekan tombol SEND, terkirimlah pesan singkatku. Banyak hikmah yang dapat kuambil dari kejadian ini. Pertama dalam menghadapi persoalan harus selalu menanggapi dengan kepala dingin tidak mengumbar emosi. Seperti yang pernah kupelajari waktu keci “Jika kita marah kita disuruh duduk, jika masih marah kita disuruh tidur dan jika masih marah kita disuruh berwudu. Yang kedua adalah sikap tegas dalam berdagang harus dimulai dari awal terjadinya jual beli dan perlunya bukti tanda tangan dari pembeli sehingga jika ada permasalahan posisi penjual akan kuat dimata hukum. Aku hanya berharap dalam doaku...

“Ya Allah, lindungilah aku dari api nerakamu karena ketak mampuanku mengendalikan emosi dan lindungilah aku dari masalah dalam berdagang. Amin”